Meskipun pepulasi domba di indonesia katakanlah cukup besar, saya kok jarang sekali bahkan tak menjumpai daging domba dijual di pasar atau pasar sewalayan. Yang ada hanya daging kambing dan tentu saja daging sapi. Warung sate dan gule (gulai) domba juga tidak pernah saya temui. Yang ada selalu sate, tongseng, dan gule kambing.
Apakah domba yang dipelihara peternak Indonesia itu tak pernah dipotong? Di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) ternyata domba-domba itu juga rutin dipotong, dikuliti, dibersihkan, dan dagingnya dijual. Pada saat itulah nama
'domba' menghilang, berganti dengan kambing. Selama ini daging domba memang selalu dipasarkan dengan sebutan
"daging kambing". Ketika disate dan digule pun, namanya bukan sate dan gule domba, melainkan
"sate dan gule kambing". Dalam bahasa jawa, kambing dan domba memang sama-sama disebut wedus, yakni wedus jowo dan wedus gembel. Dan anak dari wedus itu namanya cempe.
Jadi, menurut orang jawa, domba memang masih tergolong jenis kambing dengan bulu keriting (gembel). Dalam bahasa jawa halus, kambing disebut mendo atau mendo jawi. Domba disebut mendo gembel. Maka, ketika dipotong pun, daging dua jenis ternak ini juga sama-sama disebut iwak wedus atau ulam mendo. Entri wedus dalam Bausastra Jawa berpenjelasan:
menda, kewan asikil papat kalebu wewilangane kewan rajakaya, jinise warna-warna kayata: gembel, jawa, lan sakpiturute. Domba tak pernah punya nama khusus dalam kosakata bahasa jawa. Pengaruh bahasa jawa ini berimbas ke bahasa indonesia.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), enti kambing dijelaskan sebagai binatang pemamah biak dan pemakan rumput (daun-daunan), berkuku genap, tanduknya bergeronggang, biasanya dipelihara sebagai hewan ternak untuk diambil daging, susu, kadang-kadang bulunya; capra. Karena domba masih dianggap jenis kambing, entri domba dijelaskan sebagai 'kambing yang berbulu tebal (bulunya dipakai bahan membuat wol); kambing kibas. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, entri Domba 'kambing kibas'. Kambing binatang sebangsa domba, ada banyak macamnya seperti kambing kacang, kambing benggala, kambing kibas, dsb.
Kurang lebih sama dengan KBBI, Ensiklopedi Indonesia menjelaskan domba sebagai biri-biri, termasuk binatang memamah biak, ternak kecil; nama lain: Gibas. Sementara itu, entri kambing diberi penjelasan agak lebih panjang: (Latin : Capra) hewan pemamah biak, berkuku genap dengan tanduk geronggang, leher pendek, dahi menjorok ke depan, hidung datar serta tanduk pipih ke samping. Kambing jantan berjenggot, makanannya tumbuh-tumbuhan, banyak dipelihara di seluruh Indonesia; dikenal dua jenis: jenis perah dan jenis potongan.
Dalam Ensiklopedi Umum Indonesia, entri domba dan kambing sama-sama diberi penjelasan cukup lengkap. Kambing (goat), genus Capra, familia Bovidae, binatang menyusui, memamah biak, bertanduk yang berongga, erat hubungannya dengan domba. Kambing dipelihara untung dagingnya, air susunya, dan kulitnya. Di Indonesia dikenal kambing kacang yang kecil-kecil dan kambing Etawah yang besar dengan telinganya yang bergantung ke bawah. Entri domba diberi penjelasan sebagai berikut. Domba atau biri-biri (Inggris: sheep), binatang menyusui, memamah biak, genus Ovis, familia Bovidae, masih liar atau sudah dijinakkan sebagai ternak. Domba dekat sekali hubungannya dengan kambing, bedanya: tanduk domba spiral, domba jantan, tidak berbau, jenggotnya seperti kambing jantan. Domba dipelihara untuk wolnya yang lembut, daging dan kulitnya. Penyebutan "genus ovia" merupakakan salah tulis atau salah cetak sebab yang bener genus ovis.
Tampaknya para penyusun KBBI hanya berpatokan pada
Bausastra Jawa dan Kamus Umum Bahasa Indonesia. Ensiklopedi Umum Bahasa Indonesia tampaknya tak mereka lihat, apalagi
Webster's Dictionary dan Encyelopedia Britanica.
Yustinus Setyanta.