Minggu, 03 Agustus 2014

MENGABAIKAN MANDI

Di perumahan Ali, saat musim kemarau air kran tak mengalir sepanjang hari. Hanya jam-jam tertentu saja mengalirnya air. Jadinya, saat mandi pun harus tepat waktu. Kalau tidak, bakal tak mendapat jatah air. "Ayo kak, mandi" ajak Mia, adik Ali. "Ah, nanti aja. Tanggung, nih" sahut Ali sambil bermain bola dengan temannya. "Nanti airnya keburu mati, lho." "Nanti nenek-menek cerimis bawel......!" Mendengar ucapan Ali, teman-temannya pun ikut tertawa. Akhirnya Mia merasa malu dan meninggalkan Ali. Betul juga kata Mia tadi. Sesampai di rumah, air kran sudah mati. Air di bak pun tinggal sedikit, karena sudah dipakai mandi Ayah, Ibu, dan Mia. Akhirnya Ali hanya cuci muka saja. "iih..., bau kecut! Pasti kak Ali badannya penuh kuman dech, hii....mengerikan" ucapan Mia saat makan malam bersama. "Biar kecut gini, tapi ganteng kan?" sahut Ali. "Ganteng-ganteng kalau bau kecut sama aja boong..." timpal Mia dengan nada mengejek. 

Keesokan harinya Ali malas-malasan saat dibangunkan Ibu "Ali bangun nak, mandi! Air krannya keburu mati lho," jelas Ibu. Ali mengeliat sembari membelalakkan matanya. Dia pun lalu memandang jam di meja belajarnya. "Ah.....masih pagi, dingin pula" gumamnya malas. Dia pun membetulkan selimutnya dan kembali tidur kembali. Beberapa saat kemudian. Ibu membangunkannya kembali. Ali pun bangun karena hari memang sudah siang. Ali lalu mengambil handuk dan masuk kamar mandi. Akan tetapi, air dalam bak tinggal sedikit, lagi pula air krannya juga mati. "Bu...... Bu.....! Airnya mati ya?" tanya Ali dari dalam kamar mandi. "Sudah dari tadi matinya" sahut ibu. "waduhhi....tidak mandi lagi nih!" guman Ali. Benar juga. Pagi itu dia hanya gosok gigi dan cuci muka.

Sore harinya. Aldi tidak kebagian air kembali. Untuk sekedar cuci muka pun Ali tak bisa. "Hei, itu buat masak, Ali" cegai ibu ketika Ali mengambil air di ember "Lalu gimana nih?" sahut Ali bingung. "Sana minta Bude Narti. Siapa tahu punya air" saran Ibu. Ali pun membawa handuk dan perlengkapan mandi ke rumah Bude Narti. Sesampai di sana. Ali tidak lekas mandi. Akan tetapi, malah bermain bersama anak-anak Bude Narti.

Setelah menjelang petang, Ali baru beranjak untuk mandi. "Mandi dulu, ahh" ucap Ali. "Waduh. Di. Sepertinya air di bak habis, tuh," sahut Bude Narti. "Waduh, tidak mandi lagi donk.....," gumam Ali sembari mengelap peluhnya dengan handuk. "Tapi, kalau buat cuci muka bisa, Di." akhirnya petang itu Ali hanya cuci muka kembali.

Saat mengerjakan PR, Ali tampak tak konsentrasi. Sesekali dia menggaruk tangan, kaki, maupun punggungnya. Kepalanya pun tak ketinggalan dia garuk-garuk pula. "Iih...kak Ali kenapa sih? Dari tadi garuk-garuk mulu" ucap Mia. "Huh...seperti tidak tahu saja! Gatal nih!" "Salah sendri kak Ali nggak mandi" "Airnya dihabiskan kamu sih!" "kak Ali sendiri yang tidak tertib. Sudah tahu airnya giliran, Kak Ali mengabaikan mandi"

Melihat Ali garuk-garuk badannya, Ibu pun segera mencarikan bedak talk. Ibu lalu menaburkan ke seluruh badan Ali agar tak gatal-gatal. Sehingga dia dapat konsentrasi mengajarkan PR dan nyenyak tidurnya nanti. "Ha..ha...ha...! Kak Ali jadi Hanoman, badannya putih semua......!" Ledek Mia terbahak-bahak. Ibu pun ikut tersenyum melihat badan Ali putih semua dan sesekali garuk-garuk badan layaknnya Hanoman, Si Kera Putih. ***

Demikianlah Cerpen dengan judul "Mengabaikan Mandi"

Yustinus Setyanta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

i
t
a
H
a
r
a
s
k
A
-
p
u
d
i
H
a
r
a
s
k
A
g
o
l
B