Senin, 12 Maret 2018

SIMAK dan DISIBAK

Penyair, Puisi, dan Berbagai Hambatannya.

Adakalanya puisi gagal menemukan bentuknya di hadapan publik pembaca. Terutama dengan keseriusan para penyair untuk merajut makna yang dianggap aneh, bertolak belakang atau mungkin tak dipahami oleh pembaca. Maka kita hanya dihadapkan pada sebuah asal-mula, yakni proses terbentuknya puisi itu sendiri. Sebagai sebuah nalar yang melingkar puisi menjadi niscaya mengambil bagian sebuah publik untuk intim. Sekaligus menyeluruh dengan tidak ingkar pada lingkungan sekitar. 

Persoalan yang banyak ditemui ialah kedalaman makna di mana sejumlah diksi gagal membangkitkan aura, sehingga acapkali ditemui bentuk puisi yang datar, tak lagi mengejutkan atau imajinasi yang terkesan biasa saja. Tentu ini persoalan mendasar bagi seorang penyair. Setiap penyair per-caya, sebuah makna kata memerlukan kerja yang serius, bermain-main atau tapak hari - jauh sebelum puisi itu dibentuk. Dan apa yang ditulis beberapa penyair tahun lampau nampaknya masih pantas dijadikan sebuah rujukan, jika kita tidak pernah tahu apa maksud si penyair dalam puisinya maka masukilah bagaimana keseharian seorang penyair. 

Bagaimana ia mesti berkelahi dengan sejumlah kalimat, mencoret-coret sketsa, sebelum puisi itu dilempar dan menemui publiknya. Sebagai bentuk lingua yang lumayan tua, puisi memang harus menjaga komponennya. Dalam bahasa elektro; ibarat sejumalah mekanik-mekanik membutuhkan tenaga dari luar (arus) listrik untuk membangkitkannya. Dengan demikian, puisi akan bersimpuh kemudian menggeletar diantara aura bunyi lainnya. Sebab lingkar pikir manusia terkadang selalu membelenggu yang membuat kita menbatasi gerak. Sehingga imajinasi yang tertuang dalam sejumlah diksi berhenti setelah kita selesai membacanya. Puisi yang tetap berdencar sepanjang masa. Dimana seluruh rangkuman jejak tertinggal di sana kata-kata penuh pukau, memotret seluruh unsur depan sadar manuisa. Getarannya membangunkan semua ketertinggalan kita. Puisi tersebut dapat membuat kita terenyuh dan selalu terngiang. 

Wah, kalau sudah begitu, saya kira puisi merupakan sebuah benda yang hebat memancarkan sejumlah aura, setiap keindahan di dalamnya terbungkus jadi satu sebuah tumpangan kalimat yang memaksa kita mengembara ke negeri-negeri yang tak "bernama" imajinasi mungkin sebuah formula ajaib untuk itu seorang penyair rajin-rajin mengasah kepekaanya, mengamati kehidupan, mendengarkan apa yang dirisaukan, menjaga gairah, menjemput seluruh kenagan yang pernah tertinggal di kepala (otak).

Puisi merupakan percikan yang sederhana, rumit dan gampang. Pengalaman berkelahi dengan kata-kata itu yang makin membuahkan nurani dalam teks (sebuah puisi). Sebagaimana kelantara, kita pun memasuki puisi yang ditulis para penyair, menyibak setiap ruas, sudut jenis diksi, bertamasya dalam taman kata yang penuh, debar, aneh atau apalah? Sesekali ditemani benak lagi beku yang muncul tak berkesudahan. Tapi dikali lain kita bersua dengan kenyataan-kenyataan yang beku, meski tetap menyenangkan.

Puisi seakan membaurkan semua sisa-sisa kehidupan atau suatu kehidupan setiap manusia yang tertuang dalam tulisan dari yang paling hitam, putih, mungkin pula abu-abu yang dialami setiap manusia dalam kehidupannya. Tangan para penyair ialah bagaimana menelurkan sebuah realitas ide itu menjadi ayam. Hal yang sama pula terjadi dalam pola pemikiran Plato, tentang sebuah konsep dunia ide, yang pernah ditulisnya. Jika dunia ide tak pernah habis akam terus ada.

- Jarak Aman

Para penulis, percaya setiap kali menuliskan sesuatu memerlukan jarak aman terhadap peristiwa. Dengan demikian ia bisa membaca lagi semua hal yang tak terpikirkan sebelumnya. Melalui jarak aman tersebut, sebuah tulisan akan berdiri sendiri (independen) dengan tidak bergantung pada peristiwa tersebut. Meskipun sebuah puisi acapkali berada pada posisi sekarat. Seperti ingin menjemput setiap keinginan atau kemauan dan menempatkan realitas secara kasar dan gamblang. Realitas itu sendiri terutama dalam sebuah karya-karya tulis, seni tulis, sembari memerlukan polesan-polesan. Sehingga membentuk sebuah tandingan dari realitas yang ada. 

Setiap kali menghitung diksi yang dipakai dalam seni tulis. Penyair mencoba memilih, membelah, kemudian menginsafi diri sendiri. Sebuah puisi memang harus disusun dengan penuh kehati-hatian, sebuah kata yang gagal saja bukan tidak mungkin bisa merusak seluruh bangunan puisi itu secara utuh. 

Melalui teks itu pulalah terjadi interaksi antara pembaca dan penulis. Sebuah pemaim syaraf, sebuah himpunan kalimat yang memerlukan proses pembaca-membaca. Sebut saja adalah usaha membongkar teks secara lebih jauh. Seperti lecutan gerak yang tampak melalui rangkaian kalimat, alinea, lembar-lembar pengetahuan disibak.

(Yustinus Setyanta)

PENGUNAAN KOSAKATA BAHASA ASING (Dampak)

Dewasa ini bahasa indonesia terus berkembang dan mulai diakui sebagai bahasa internasional. Namun, dalam perkembangannya terbukti bahwa bahasa indonesia banyak menyerap kosakata asing. Untuk berkembang, bahasa indonesia sangat tergantung pada bahasa asing. Bahkan ada yang beranggapan bahwa kosakata bahasa asing masuk ke dalam penggunaan bahasa indonesia karena ketidakberdayaan bahasa indonesia dalam interaksi antar bahasa.

Bahasa Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peranan bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun bahasa asing. Peranan bahasa asing dalam bahasa Indonesia membuktikan adanya kontak atau hubungan antarbahasa sehingga timbul penyerapan bahasa-bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia.

Penyerapan di sini dapat diartikan sebagai pengambilan unsur bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia untuk dibakukan dan digunakan secara resmi oleh pemakai bahasa Indonesia. Fungsi penyerapan bahasa asing sendiri adalah untuk memperkaya khazanah kosakata bahasa Indonesia menjadi lebih beragam.

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak dapat dilepaskan dari pengaruh dunia luar, khususnya dunia barat, baik dari segi gaya hidup, style, sampai pada penggunaan bahasanya. Oleh karena itu, tidak jarang ditemukan sebuah fenomena di mana seseorang cenderung menggunakan kosakata-kosakata bahasa asing daripada bahasa Indonesia.

.


Penggunaan bahasa asing dalam masyarakat ada dua macam. Pertama adalah bahasa asing yang telah dibakukan oleh Pusat Bahasa, dan kedua adalah bahasa asing yang belum dibakukan.

Apabila sesorang menggunakan bahasa asing yang telah dibakukan seperti pada kata atom, vitamin, unit dsb., tentunya ini bukan merupakan masalah karena bahasa asing itu sudah menjadi padanan dalam bahasa Indonesia. Akan tetapi, apabila pengguna bahasa Indonesia menggunakan bahasa asing yang belum dibakukan, ini menjadi suatu ancaman terhadap bahasa kita tercinta ini.

Dalam kenyataannya pengguna bahasa Indonesia yang menggunakan bahasa asing dalam kegiatan berbahasanya disebabkan dari beberapa faktor, antara lain gengsi, kebiasaan, pergaulan, gaya berbahasa agar terkesan “wah”, dsb. Jelas, alasan ini merupakan dampak yang negatif dan menjadi suatu ancaman bagi bahasa Indonesia, tetapi di sisi lain ada dampak positif dalam penggunaan bahasa asing yang belum dibakukan ini terhadap kegiatan berbahasa secara umum.





Dampak positif itu berupa kemudahan dalam berkomunikasi antarsesama karena timbulnya suatu keadaan di mana kosakata bahasa asing dirasa lebih mudah dimengerti dan digunakan dalam komunikasi dibandingkan dengan padanan dalam bahasa Indonesianya. Kenyataan yang timbul di lapangan terkait dengan penggunaan istilah asing ini adalah sebagai berikut.

Sering kita jumpai ujaran seperti ini: “Bu, adik ingin membeli snack yang rasa kentang itu.” Dalam ujaran itu terdapat kata asing, yaitu kata snack, kata itu merupakan istilah asing yang seolah-olah sudah menjadi bahasa Indonesia yang cenderung dipakai untuk merujuk kepada “makanan ringan”, padahal secara aturan kebahasaan ada padanan lain dalam bahasa Indonesia yang artinya semakna dengan kata snack tersebut. Kata itu adalah kudapan.

Namun, kata kudapan dalam kenyataannya lebih asing apabila dibandingkan dengan kata snack di telinga para pemakai bahasa Indonesia dan penggunaan kata snack dirasa cukup efektif dalam berkomunikasi daripada menggunakan kata kudapan. Masih banyak padanan kosakata bahasa Indonesia lainnya yang statusnya lebih asing di telinga dibandingkan kosakata dari bahasa asing.


Kesimpulannya, penggunaan kosakata asing dalam bahasa Indonesia tidak selalu diidentikkan dengan dampak negatif karena terselip hal positif, yakni dapat mempermudah kegiatan berkomunikasi, khususnya dalam tuturan yang di dalamnya terdapat bahasa asing yang terasa lebih akrab di telinga dibandingkan dengan padanan bahasa Indonesianya.

Namun, diharapkan adanya sosialisasi terhadap padanan bahasa Indonesia secara intensif agar identitas kosakata pada bahasa Indonesia tidak terkikis oleh kosakata dari bahasa asing sehingga diharapkan kelak tidak lagi terdapat wacana bahwa kosakata bahasa asing lebih akrab di telinga para pengguna bahasa Indonesia dibandingkan dengan bahasa Indonesia sendiri.





Bagi Saya sebagai pihak netral berpendapat bahwa kemampuan bahasa indonesia dalam interaksi antarbahasa dapat diwujudkan jika porsi penggunaan bahasa indonesia seimbang dengan kosakata bahasa asing. Apabila seseorang menggunakan bahasa asing yang telah dibakukan seperti pada kata atom, vitamin, unit. Tentunya ini bukan merupakan masalah karena bahasa asing itu sudah menjadi padanan dalam bahasa indonesia. Akan tetapi, apabila pengguna bahasa indonesia menggunakan bahasa asing yang belum dibakukan,ini menjadi suatu ancaman terhadap bahasa kita tercinta ini. Penggunaan kosakata asing dalam bahasa indonesia tidak selalu diidentikkan karena dampak negatif karena terselip hal positif, yakni dapat mempermudah kegiatan berkomunikasi, khususnya dalam tuturan yang didalamnya terdapat bahasa asing yang terasa lebih akrab di telingga dibandingkan dengan padanan bahasa indonesianya.

Namun, diharapkan adanya sosialisasi terhadap padanan bahasa indonesia secara intensif agar identitas kosakata pada bahasa indonesia tidak terkikis oleh kosakata dari bahasa asing. Kelak, diharapkan tidak lagi terdapat wacana bahwa kosakata bahasa asing lebih akrab di telingga para pengguna bahasa indonesia dibandingkan dengan bahasa indonesia sendiri.




(Yustinus Setyanta)

Rabu, 07 Maret 2018

PESTA KALIMAT PENDEK.

Bagi otomania yang sering berkendara dengan kendaraan beroda dua atau beroda empat di jalan raya, maupun yang sering bepergian dengan kendaraan umum; Bus malam, travel, dsb tentu sangat akrab dan bersahabat dengan sekala keramaian lalu lintas. Adakalanya suasana yang sumpek, penat, macet pula di sebentang jalan memanjang bisa berubah menjadi semacam special manakala ada satu atau beberapa "monster jalanan" dan memberi daya magisnya. Siapa lagi kalau bukan "Truk". Dengan ukuran yang besar, maka truk ini boleh dikata monster jalanan. Nah, yang menyebalkan ialah saat-saat menunggu antrian dikemacetan apalagi bila berada di belakang trus gede dan tak bisa mendahului (beraklerasi) wih...rasanya gitu deh itu. Tapi ada hal yang membuat sedikit mesam-mesem, cengar-cengir, dan senyum dikulum yakni bila bertemu tulisan kocak di belakang truk. Anda suka dengan tulisan-tulisan kalimat pendek tersebut atau malah nyinyir?

Para sopir yang senantiasa berkelindan di ruas ke ruas tiap-tiap jalan penjuru kota, bahkan antar kota antar provinsi, antar daerah antar wilayah itu cukup kreatif dan berimajinasi tinggi. Siapa bilang sopir-sopir itu cuma bisa nyetir doank. Ada banyak kalimat-kalimat bijak dalam bentuk kocak tak terelakkan puitik yang unik menarik untuk disimak. Berikut beberapa postingan-postingan yang ada di bak belakang trus yang saya ingat: "Mencari Nafkah Demi Desah" "Pergi karena tugas, pulang karena beras" "Nggak pulang dicari, Pulang diomeli" "Pergi cari rejeki, pulang demi ngeloni bini" "Bojomu mantan pacarku" (suami/istimu mantan pacar aku) hehehe... Dan masih banyak lagi.

Tentu sudah tidak asing lagi bukan? Dengan tulisan-tulisan kocak di bak belakang truk. Nah, jauh-jauh hari sebelum ada media sosial seperti; Path, Twitter dan kawan-kawannya. Para mobil truk sudah menuliskan status-statusnya di bak belakang truknya. Mereka mengiasi sekalimat seturut mereka. Sepertinya pembaca diajak-mengajak, malah mesti "memfrasekan" apa yang mereka maksud dengan kalimat-kalimat pendek. 

Mungkin, pada awalnya tulisan-tulisan itu adalah ungkapan-ungkapan ekspresi menghadapi tuntutan hidup. Hal-hal yang biasa, nestapa sekaligus mendera diubahnya menjadi luar biasa dan tidak terduga cenderung mengundang gelak tawa. Namun tulisan-tulisan di bak belakang truk itu semacam ada isyarat yang hendak diunggah oleh mereka dari suara hati kecil sesungguhnya semacam pelisanan mereka untuk pembaca ketahui; dari frasa-frasa, idiom, bahkan tak jarang semacam aforisma. 

Dari postingan-postingan sekilas pada kendaraan umum dan truk-truk yang kecenderungan pada bagian samping atau belakang bak terbukanya itu bergambar kemudian terselipkan kalimat pendek adalah tindakan konkret mereka yang tak ubahnya para penyair atau pengarang (penulis) dalam menepis sebuah judul atau selarik syair betapa refleksi tanpa tendensi yang macam-macam. Kedinamisan terhadap permainan berbahasi itu sendiri, kadang dijumpai tulisan kalimat pendek tersebut berbentuk seperti sebaris Sepentina, ada juga Alusi, ada pula kalimat berbentuk Kuplet. Bermain frase yang cenderung seperti kita endus bak aforisma tersebuat adalah kebiasaan positif serta patut diapresiasi


Kesimpulan sederhananya sih "Bermain-main dengan bahasa memang mengasikan selain perannya sebagai komunikasi keseharian dalam formal serta non formal.


Tak sekadar berbahasa untuk mencapai titik kebersahajaan belaka, tapi kedinamisan terhadap permainan berbahasa itu sendiri. Adalah kebiasaan yang layak-layak saja atau dalam kata lain positif. Itu adalalah murni tanpa cari sensasi. Suatu bukti nyata dari pernyataan kreatif yang merupakan bentu modifikasi mobil truk ala sopir Indonesia yang patut diapresiasi.

Apakah Anda suka dengan tulisan-tulisan kalimat pendek tersebut? Atau justru malah bapar, sebal, dan nyinyir?



Yustinus  Setyanta)

JELAJAH

Seperti seorang pemburu
Waktu mengendap selalu 
Dalam tubuhmu-tubuhku 
Detik berdenyut dinadi

Apakah kita sebagai fiksi 
Ataukah kita sebagai puisi 
Menyusuri tepian misteri 
Mengemas ilusi atau memunguti imajinasi

          Akankah ada jejak panjang 
          Di jalan-jalan kenangan 
          Atau hanya memori

Waktu mengendap selalu 
Dalam tubuhmu-tubuhku 
Detik berdenyut pada nadi 
Derit langkah menjelatahi






















(Yustinus Setyanta)

Senin, 05 Maret 2018

KERJA dan MANUSIA

Arti kerja menekankan martabat manusia sebagai makhluk ciptaan Allah. Berkeyakinan bahwa kerja merupakan merupakan dimesi fundamental kehidupan manusia. Keyakinan ini diteguhkan oleh pertimbangan-pertimbangan antropolgi, paleontologi, sosiologi, sejarah, dan ilmu lainnya. Kerja yang dimengerti sebagai suatu kegiatan "transitif" yaitu kegiatan yang berawal didalam subjek manusia dan diarahkan kepada suatu obyek luar.




Difinisi-difinisi Kerja. 

Kerja : Sebuah usaha atau kegiatan yang wajib dilakukan manusia untuk mencapai sebuah hasil. Menggerakan badan untuk kegiatan bermanfaat.

Kerja adalah Aktivitas yang dinamis dan bernilai tidak dapat dilepaskan dari faktor fisik, piskis, dan sosial. Nilai yang terkandung dalam kerja bagi individu yang satu dengan yang lainnya tidaklah sama nilai tersebut dapat mempengaruh sikap dan prilaku dalam bekerja.

Kerja adalah Merupakan hal yang penting dalam kehidupan individu karena beberapa alasan, 1. Adanya pertukaran atau timbal balik dalam kerja berupa raward seperti uang. 2. Kerja biasanya memberikan bebeberapa fungsi sosial perusahaan atau instansi sebagai tempat kerja, memberikan kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang baru dan mengembangkan persahabatan. 3. Pekerjaan seorang seringkali menjadi status dalam masyarakat luas. Namun kerja juga dapat menjadi sumber perbedaan sosial maupun integrasi sosial. 4. Adanya nilai kerja bagi individu yang secara piskis dapat menjadi sumber identitas diri dan aktualitas diri.

Kerja adalah Kegiatan melakukan sesuatu. Yang dilakukan kerja dapat merujuk pada;
- Kerja Mekanik, jumlah energi yang diakibatkan oleh adanya gaya yang bekerja sepanjang lintasan tertentu. - Kerja Termodinamika; jumlah energi yang ditransfer oleh sebuah sistem ke sistem lainnya. - Pekerja Aktivitas, yang dilakukan manusha untuk menghasilkan sesuatu (barang, jasa, uang, dsb).


Kerja adalah Bagian sentral dalam kehidupan manusia. Dengan pikiran dan tubuhnya; manusia mengorganisir pekerjaan membuat benda-benda dan jasa yang dapat membantu memudahkan pekerja tersnbut dan menentukan tujuan akhir dari kerjanya. Dapat juga dikatakan atau arti yang lebih pendek bahwa kerja merupakan aktivitas yang unik.

Kerja bukan lagi merupakan fenomena universal manusia saja tetapi juga melibatkan pekerja-pekerja tangan atau pun pekerja pengetahuan (Knowledge worker). Pekerja tangan adalah Orang yang bekerja dengan keterampilan praktis. Sementara pekerjaan pengetahuan adalah pekerja yang tidak membutuhkan atau keteremapilan praktis, tetapi juga pekerja yang melibatkan konsep abstrak dan memiliki cakupan luas yang pasti kerja (work) dan bekerja (Working) adalah penghasil kerja (work) dengan kegiatan menghasilkan kerja itu disebut sebagai bekerja (working). Dalam hal ini setiap bekerja haruslah ditata dalam organisasi yang setidaknya mampu mewujudkan dua hal, yakni mencapai produktivitas kerja yang dibutuhkan organisasi dan memperoleh kepuasan persoal melalui kerjanya.




Dimesi Obyektif dan Subyektif

Kerja adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia untuk memperbaiki kondisi hidup dan menundukan bumi. Hal ini yang dimaksud sebagai "Kerja dalam arti obyektif". Proses penguasaan dan pemanfaatkan bumi meliputi semua makhluk manusia. Setiap generasi, setiap tahap perkembangan ekonomi dan kebudayaan dan sekaligus merupakan proses yang berlangsung didalam diri setiap makhluk manusia yang sadar. Kerja bersifat universal ikut menciptakan nilai dalam arti yang obyektif. Sebab kerja dalam arti obyektif adalah segala sesuatu yang dihasilkan oleh kerja manusia terutama teknologi.

Lebih dari makna kerja dalam arti yang obyektif, menusatkan perhatian pada kerja dalam arti subeyektif. Sebagai makhluk manusia adalah seorang pribadi yaitu makhluk subyektif yang mampu bertidak dengan cara yang terencana, terperinci dan rasional mampu mengambil keputusan mengenai dirinya sendiri dan dengan kecenderungan kepada perwujudan diri oleh kerenanya sebagai pribadi manusia merupakan pelaksana kerja. Dimensi subyektif kerja itu mendasari dan menentukan sifat etis kerja "Betapa pun benar manusia itu dimaksudkan dan dipanggil untuk bekerja pertama-tama demi manusia dan bukan manusia demi kerja"

Kerja manusia dalam dimesi subyektifnya keluarga dan masyarakat besar (bangsa, negara). Kerja memungkinkan kehidupan keluarga dan pemeliharaanya dari satu sisi. Pada sisi lain kerja memungkinkan tercapainya tujuan-tujuan keluara, masyarakat besar, khususnya pendidikan keluarga membentuk suatu pola kaitan paling pokok untu membentuk tertib sosial dan etika kerja manusia.
Dengan tetap tinggal didalam konteks manusia sebagai pelaksana kerja. Biarpun kerja merupakan nilai yang rumit diperoleh. Melalu kerja manusia mewujudkan diri sebagai manusia. Kerja merupakan pengalaman harian semua pekerja dan karena kerja merupakan suatu panggilan bagi semua orang. Kerji itu biasa bagi setiap orang. Kerja adalah baik bagi manusia (tapi yang baik belum tentu benar) namun dalam arti kerja tidak hanya bermanfaat dan bisa dinikmati namun terutama karena kerja sesuai dengan martabat manusia. Dengan kata lain melalui kerja manusia mengubah alam, menyesuaikannya dengan kebutuhan-kebutuhannya sendiri serta mencapai pemenuhannya sebagai makhluk manusia.





Teknologi dan Kerja

Dalam perkembangan zaman, kerja manusia kian dibantu dengan peralatan yang makin lama makin sangat disepurnakan baik dibidang pertanian maupun industri. Perkembangan terhadap ilmu pengetahun dan teknologi telah menyebabkan perubahan-perubahan besar didalam peradaban teknologi yang diartikan sebagai suatu perangkat lengap alat-alat yang dipergunakan manusia di dalam kerjanya berfungsi untuk meringkankan dan mempermudah kerja manusia, untuk menyempurnakannya,mempercepat dan memperbesarnya. Teknologi tidak dapat tidak menjadi sekutu manusia.
Disisi lain, teknologi bisa juga menjadi musuh manusia apabila mekanisme kerja merampas kerja para pekerja yakni menadakan segala kepuasan pribadi dan rangsangan bagi daya cipta maupun tanggungjawabnya. Teknologi merupakan koefesien dasar kemajuan ekonomi tetapi sekaligus ternyata menimbulkan persoalan-persoalan yang hakiki mengenai kerja manusia dalam hubungannya dengan pelaksananya yaitu manusia tentang etis dan sosial itu merupakan tantangan bagi semua pihak.

Maksud dan Perhatian

Menandai suatu tahapan kritis dan pembangunan modern tentang makna kerja - manusia yang bekerja - makna baru kerja manusiawi berhadapan dengan masalah modern.

Memperuntukan bagi kerja manusia khususnya bagi manusia sendiri dalam lingkup kenyataan kerja yang luar. Kerja merupakan salah satu aspek yang tetap ada mendasar dan selalu menantang perhatian sehubungan dengan kenyataan kehidupan berbagai masyarakat dengan meminta perhatian terhadap martabat dan hak-hak mereka yang bekerja.

Dalam alur kehidupan mempunyai perhatian pokok tentang kerja sejauh merupakan unsur hakiki martabat manusia. Berhadapan dengan perubahan-perubahan yang pesat dalam masyarakat dewasa ini beserta konsekuensi-konsekuensinya menggalami dan membuka makna baru kerja manusia serta menunjuk tentangan-tantangan baru yang meminta perumusan tugas-tugas baru. Kerja yang dimaksud adalah kerja yang secara nyata dilakukan dalam masyarakat industri dan dalam masyarakat agraris dalam masyarakat teknologi dan dalam masyarakat kemiskinan kerja yang dilihat dari sudut pengalaman pekerja mendapat relevansi yang amat mendalam dan serba menentukan untuk membuka seluruh masalah sosial sesuai dengan maksudnya untuk membuka pengertian makna baru bagi kerja dan menunjuk pada tantangan-tantangan zaman yang baru; kerja menjadi kunci hakiki persoalan sosial.

Untuk membuka seluruh masalah sosial kalau kita sanggup mencoba memandangnya dari sudut kesejahteraan manusia. Kalau pemecahan - lebih tepat pemecahan berangsur-angsur - masalah sosial, yang muncul setiapkali dengan makin bertambah komplek, perlu diusahakan dalam arah makin memanusiawai. Kunci itu yakni kerja manusiawa mendapat relevansi yang amat mendasar dan serba menentukan.




(Yustinus Setyanta)

Minggu, 04 Maret 2018

PERHENTIAN

Seumpa pagi, kita pun lekas pergi 
Sebagaimana sore, kita segera sampai 
Dari dan kepangkuan kelam 
Sebagai penghuni goa-goa malam 

          Kelana lelah 
          Sejenak singgah 
          Pada rumah 
          Masa lalu sudah 

          Semua kisah telah 
          Dicatat dalam sejarah 
          Bagai mumi purba 
          Yang nyaris terlupa 

Dan saat pena 
Mengoreskan aksara 
Penanda prasasti 
Perjalanan dimulai lagi






(Yustinus Setyanta)

ORI dan KW

Istilah Ori dan KW tentunya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Mengingat maraknya istilah-istilah. Original atau bisa disebut Ori merupakan barang asli produk dari pabrik yang bersangkutan. Sedangkan KW? Saya tidak tahu persis singkatan dari KW yang saya tahu, KW adalah sebuah kata istilah untuk barang yang diproduksi oleh pihak lain dengan sama persis sampai merk-merknya bisa dibilang tiruan atau asli tapi palsu. Dan barang KW harga tentu lebih bersahabat dibanding Ori. Tapi kualitas jelas dibawah barang ori. KW sendiri dibagi menjadi beberapa level; KW Super, KW Semi Super, KW 1, KW 2, dan seterusnya. Semakin banyak angka makin rendah kualitasnya. Entalah siapa yang mengklasifikasikan hal tersebut. Setahu saya KW itu singkatan umum yakni KW : Kilowatt (Electrical)

Tersenyum ranum beralun bingung menjawabnya ketika seorang kenalan menayakan perihal mutu jam tangan yang sedang saya pakai kala itu.

"Jam yang kamu pakai itu Ori atau KW, kalau KW itu KW berapa?"
Tanya kenalan saya itu sambil meminta saya untuk melepas jam tangan untuk dia pegang dan amati.

Karena keheranan bercampur bingung meyebabkan ketidaktahuan yang dimaksud terhadap istilah Ori dan KW, saya menayakanya kepada kenalan tersebut. Menurutnya istilah "Ori" itu maksudnya Orginal yang dalam bahasa Indonesia berarti; Asli atau tulen. Sedangkan istilah KW, maksudnya dari "Kwalitas" yang mana memilih tingkatan seperti KW 1, KW 2, dan seterusnya. Makin tinggi angka KW, makin rendah mutu barang tersebut.




Setelah mendapat penjelasan mengenai istilah tersebut. Saya pun jadi tahu. Namum juga menimbulkan pertanyaan dalam benak saya dari segi bahasa. Khususnya bahasa Indonesia dan hal itulah yang membuat saya bingung tadi. Yang walaupun saya ini tidak jago bahasa dan bukan ahli bahasa sihh.

Penggunaan istilah "Ori" ini jika digunakan mestinya satu paket dengan istilah KW artinya jika Ori diambil dari kata Original (b.ing) maka istilah KW menjadi ganti atau memjai kata KIU (Qiu)


'Q' (Quality) atau istilah Ori diganti saja dengan kata "Asli atau Tulen" untuk menyesuaikan istilah KUA (Kualitas) bukan KW (Kwalitas) atau biar tak sulit menerangkan pakai istilah Asli, Mutu 1, Mutu 2, dan seterusnya serta "Tiruan atau Palsu"

Membuat istilah dalam berbahasa boleh-boleh saja meski tiadk sah atau salah kaprah Tetapi langkah sip, jika memenuhi kaidah tata bahasa.

Istilah; Ori-KW (Inggris-Indonesia) Ori-Q:KIU (Inggris-Inggris) Asli-KUA/Mutu 1, 2 dan seterusnya (Indonesia-Indonesia). Nah bagaimana jika pilih saja istilah yang berpola: Indonesia-Indonesia, supaya tak sulit lagi menjelaskannya. Dan bangga dengan bahasa Indonesia karena kata yang mau dipakai untuk istilah tersebut sudah ada tersedia dalam bahasa indonesia. Jadi tak usah kebarat-baratan. Karena tak sedikit dari bangsa lain kini yang justru mempelajari bahasa Indonesia dan bahkan bahasa beberapa etnis di Indonesia.






(Yustinus Setyanta)