Jumat, 02 Maret 2018

CINTA MENEMBUS BATAS

Kura-kura hidup 
Manusia mati 
Manusia hidup 
Anjing mati 
Anjing hidup 
Cinta mati 
Cinta hidup 
Kepedihan mati 
Kepedihan hidup 
Kebahagiaan mati 
Jangan pernah menunda untuk bahagia 
Karena cinta

HUJAN DINI HARI

Hujan pun mulai luruh
Ketika menjelang subuh 
Jam waker pun bergetar 
Kabut mengendap di luar 

         Angin memdinginkan tubuh 
         Sepoi merapat ke jendela 
         Selimut pun turut melantun 
         Hangatkan badan tanpa perapian 
         Kembali setubuhi raga digigil dini hari 

Kota pun basah dini hari 
Sesekali ada kendaraan melintas 
Bayangan siapakah gerangan bergegas 
Menjejaki jalan lengang begini















(Yustinus Setyanta)

GUBUK DOA

Diam diri dalam gubuk doa 
Sunyi senyap jiwa-raga 
Khusuk runduk sembah bekti 
Haus akan rahmat Ilahi

Setiap insan menuju gubuk doa 
Segala rasa ia kecapkan 
Sang Khalik memanggil 
Harapan moga terkabul

Rasanya tak ada kedukan jiwa-raga 
Melebihi emas murni dan semua yang di dunia 
Biarlah rasa syukur meluntur digubuk doa 
Bagi yang terpanggil dalam jiwa

Seorang manusia termenung 
Dalam batin yang tenang 
Barangkali yang dicari 
seorang umat manusia selama ini

          Biar cakrawala 
          yang tak pernah pudar 
          Untuk selamanya






(Yustinus Setyanta)

Kamis, 01 Maret 2018

HUJAN DALAM NADA

Hujan tika malam
Nyaris semua terdiam
Bisik daun pada tangkai
Sisa arang yang sangsa

Adakah suara lain pada rima di
mayang puisi

Sampai kuncup
Hati

Oh
Hujan dalam nada sajak








PADAMU YANG SABAR MENDENGAR

Sudah berapakali patahan-patahan rambutmu 
Jatuh dibahuku saat kau bersandar 
Sudah berapa ribu jam kau tak bosan 
Mengeluh luruh diajak bicara 
Tentang laut, tentang gelombang 
Tentang bukit, tentang lembah 
Tentang sendu - riang 
Tentang apa saja
         "Terimalah dengan resiko apapun 
           Jangan biarkan tergerus sendu sedan 
           Demi pandegaran yang tegun 
           Dalam telaga telinga kata bergelimpangan"
Riwayat-riwayat melintasi 
Kisah meniupkan aroma 
Dering pada getar dada 
Ada yang menyusup pada rogga hati

Padamu yang sabar mendengar guman, ratapan 
Hingga igauan-igauan yang terlampau rahasia 
Pengakuan yang paling jujur seperti patung 
Yang dijilati angin dan matahari 
Yang akan kau tampung 
Merasuk ke dasar lubuk pahami

     Seraya mengerti apa itu empati 
     Merasakan bagaiman itu keprihatinan








(Yustinus Setyanta)

CERITA KETIKA DATANG BERTANDANG

Kau merumahkan pagi 
Melalui lubang pintuku 
Kau tanak bersama keciap mentari 
Kita memacu cerita sekelebat pintu 

Butiran embun 
Setangkai bacaan 
Buah tangan tersampaikan 
Ke dalam pelukan 

        Dipagi kau berikan padaku 
        Bersama bagian cerita 
        Yang datang bertandang 

        Cerita pun menguyupkan
        Tentang lembaran buku harian






(Yustinus Setyanta)

SANG ADA dan SI HAMPA

: Adalah Sang Ada tersebut 

Yang Ada berwujud Sang Ada 
Hampa ada karena Sang Ada 
Sang Ada mengisi hampa 

Hampa adalah hampa yang hampa, 
Hampa yang tak pernah menjadi Ada, 
Hampa yang tetap akan hampa, 
Hampa tanpa Ada adalah hampa,

Hampa dina yang menghampa dalam kehampaan,
Mencapai hampa yang tak jadi hampa,
Dan adalah hampa yang ada hampanya,
Hampa adalah ada karena Ada, 
Sang Ada menjadi isian hampa,

Sang Ada menarik hampa dari hampa, 
Menuju ada yang bagian dari Ada, 
Yang ada takkan sampai pada Ada,
Sang Ada ada bagi hampa nan hampa,

Hampa senantiasa mencari Ada,
Si ada selalu menghampa,
Hampa bertemu hampa yang ada,
Hampa diikat pada Sang Ada,

Sang Ada mengikat hampa,
Hampa yang menjadi Ada,
Namun ada tetaplah hampa,
Hampaku adalah hampa dalam Ada,

Adalah tetap Sang Ada,
Sang Ada dalam hampa,
Sang Ada juga tak pernah jadi hampa,
Hampaku berubah menjelma ada-Nya.




















(Yustinus Setyanta)