Kamis, 07 April 2016

PASKAH DAN PASKA

Soal "Paskah" atau "Paska":

- Paskah.

Lembaga AIkitab Indonesia masih memakai kata "Paskah" sampai saat ini. Itulah sebabnya Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pun "menyesuaikan diri" dengan istilah tersebut.

Pemakaian kata "paskah" dalam KBBI ikut LAI, karena Alkitab terbitan LAI (sebelum tahun 1974) sudah ada sebelum KBBI yg pertama (1988).

Sebenarnya pemakaian kata "Paskah" adalah penyesuaian dengan konteks Indonesia. Kata "Haleluya" dalam bahasa Indonesia, kalau tetap mau menuruti aturan di atas (yang sudah diceritakan oleh Pak Rudy) menurut bahasa aslinya akan diterjemahkan sebagai "Alleluya", bukan "Haleluya", karena dalam bahasa aslinya tidak ada huruf "h" di depan.

Di dalam versi Terjemahan Lama Alkitab Bahasa Indonesia malah dipakai kata "Pasah", bukan "Paskah". Dan memang, kalau mau pakai terjemahan literal sesuai dengan bahasa aslinya, ya terjemahannya itu adalah "Pasah".

Sebelum tahun 1974, Tim penerjemah LAI mengubah istilah "Pasah" menjadi "Paskah" itu setelah melewati berbagai pertimbangan dan kajian yang mendalam, termasuk soal kaidah bahasa Indonesia (karena di dalam tim penerjemahan itu juga ada ahli bahasa Indonesia-nya juga).

Sebenernya inilah kontekstualisasi bahasa, seperti bahasa Yunani "Iohanes" diterjemahkan menjadi "Yohanes" (Alkitab Terjemahan Baru), atau "Yahya" (Alkitab Terjemahan Lama), atau "John" (Alkitab Bahasa Inggris), atau "Yohan" (Alkitab Bahasa Mandarin).

Contoh lain: kata "Ekklesia" (Yunani), jadi "Iglesia" (Portugis), "Gereja" (Indonesia), 'Church" (Inggris), "Kerk" (Belanda).

Istilah Paskah dalam bahasa-bahasa Latin biasanya diturunkan dari salah satu dari dua sumber: Paskha atau Pesakh dan Estre/Eostre atau Easter. Dalam bahasa-bahasa Slavia, biasanya istilah yang digunakan memiliki arti "Hari Agung".

Memang kadang-kadang soal istilah begini ada orang yang "mempersoalkannya".




- Paska.

Menurut KBBI, "Paska" berarti "sesudah", misalnya "paska bencana" = sesudah bencana.
Lantas bagaimana dengan 'pasca'

- Pasca

Nah, gara-gara melihat iklan sebuah perusahaan telekomunikasi yang mengakhiri iklannya dengan kalimat “layanan prabayar kenyamanan paskabayar”, saya kok jadi bingung sendiri, lantas kubuka-buka kamus.

“Pasca kok dibaca paska. Itu kan Bahasa Indonesia yang asalnya dari Bahasa Sansekerta, bukan dari Bahasa Inggris. Kalo Bahasa Inggris-nya kan ‘post’. Kalo Bahasa Indonesia-nya ‘pasca’ ya dibaca ‘pasca’, nggak jadi ‘paska’. Orang-orang banyak yang salah kaprah…”

Terus terang saya juga termasuk ke dalam orang yang salah kaprah. Malah saya pikir kata ‘pasca’ itu nggak ada, yang ada hanya ‘paska’. Saya rasa saya nggak sendiri, beberapa orang ada yang memang nggak tahu kalo ternyata justru kata ‘paska’ itulah yang nggak ada di kamus manapun di dunia ini. Anggapan itu terbentuk karena banyak orang, bahkan di media massa sekalipun – baik iklan atau pembawa berita – yang mengucapkan “paska” ketimbang “pasca”. Kekeliruan yang dibiarkan dan disebar luaskan itu membuat orang umum jadi menganggap kalau istilah itu benar, kemudian digunakan kembali, disebar luaskan lagi, sehingga kekeliruan itu semakin “membudaya”.

Setelah browsing sana sini, dan menemukan di antaranya blog ini, ini, dan ini, jelas bahwa ternyata yang benar adalah kata “pasca” dibaca “pasca” dengan pengucapan huruf “c” tetap seperti pada kata “baca” atau “macam”, bukan dengan pengucapan “k” seperti kata “car” atau “company” dalam Bahasa Inggris.

Dalam Bahasa Indonesia, pasca (sesudah) lawan katanya adalah pra (sebelum). Sedangkan dalam Bahasa Inggris, post (sesudah) lawan katanya adalah pre (sebelum). Lihat kan? Bahasa Inggrisnya “sesudah” itu post bukan “pasca” yang harus dibaca “paska” Sementara penulisan pasca dan pra disambung dengan kata berikutnya, seperti pascapanen, pascasarjana, prasejarah.









(Yustinus Setyanta)






KE-IKHLAS-AN

Gula pasir memberi rasa manis pada KOPI, tapi orang menyebutnyanya kopi manis, bukan kopi gula...
Gula pasir memberi rasa manis pada Teh tapi orang menyebutnyanya teh manis, bukan teh gula...
Gula pasir memberi rasa manis pada es jeruk, tapi orang menyebutnyanya es jeruk manis, bukan es jeruk gula.
Orang menyebut Roti Manis, bukan Roti Gula...
Orang menyebut Syrup Pandan, Syrup Apel, Syrup Jambu, padahal bahan dasarnya Gula.... Tapi gula tetap ikhlas larut dalam memberi rasa manis...
Saya ingin berbagi yang Manis manis pagi hari ini
Bukankah begituah HIDUP ini....
Kadang Kebaikanan yang Kita tanam tak pernah disebut orang....
Belajar Ikhlaslah seperti Gula....

Ikhlas itu mengorientasikan diri hanya untuk mengabdi dan berdedikasi kepada TUHAN. Ikhlas juga artinya murni dan suci.

Ikhlas itu bagai embun bening dipagi hari. Sejuk bagai udara yang asri. Tidak sulit untuk dipelajari asalkan yakin dan berusaha belajar.

Gambaran sederhana ikhlas adalah ketika anda (maaf) buang air besar, pernah anda menanyakan kemanakah perginya itu kotoran? atau gimana nasib kedepannya? atau terus dipikir-pikir terus. Tidak. Tapi dibiarkan begitu saja.

Sama halnya ketika bersedekah, berbuat kebaikan, jika ikhlas, tidak akan menanyakan gimana pendapat orang atau pujian orang. Ikhlas senang riang, sukacita dalam melepaskan sesuatu.

Memang rada susah melepaskan sesuatu yang membuat kita pait, atau getir, saya sendiri pernah mengalami tetapi saya coba terus akhirnya bisa.





Untuk Memasuki Zona Ikhlas.

Dengan management atau pengaturan gelombang otak agar mendapatkan gelombang yang sesuai dengan gelombang di Zona Ikhlas tersebut. Bila direkam dengan alat perekam gelombang otak, EEG (elektroensefalogram), otak terlihat memancarkan gelombang sesuai kondisi jiwa seseorang.

Gelombang tersebut dibagi menjadi:
Beta (14-100Hz): kita berada dalam kondisi sadar penuh, konsentrasi, otak didominasi logika.
Alpha (8-13,9Hz): kondlsl relaks, lstirahat, nyaman, medltatli bahagia.
Theta (4-7,9Hz): kondlsl medltatif yang leblh dalam, khusyuk, dominasi lntuisi.
Delta (o,1-3,9Hz): kondlsl tldur lelap tanpa mimpi, tidak sadar; tidak merasakan punya badan.

Dari keempat gelombang otak tersbut, Alpha dan Theta merupakan pintu masuk ke bawah sadar (dunia kuantum) di mana Zona Ikhlas itu terletak. Untuk mencapai gelombang Alpha dan Theta, Erbe menjelaskan, maka otak perlu diistirahatkan dengan cara relaksasi atau meditasi. Caranya, dengan menstimulir panca indra kita. Untuk indra peraba, blsa dilakukan pemijatan, sedangkan untuk indra penglihatan kita melakukannya dengan melihat dan menikmati keindahan. Sementra untuk indra pengecapan, bisa dilakukan dengan berpuasa, Indra penciuman blsa di lakukan dengan aromaterapi, serta indra pendengaran, kita bisa melakukannya dengan mendengarkan irama alam atau metode terapi musik.

Begitu kita merasakan relaks, nyaman, dan perasaan perasaan positif , itu artlnya otak kita. sedang dipenuhi gelombang Alpha. Inilah saat yang tepat bagi kita untuk membersihkan pikiran dan perasaan negatif, trauma atau memori yang tersimpan di bawah sadar dan menggantikannya dengan semua hal yang positif sehingga tercapailah kondisl ikhlas itu.

Tanda-tanda keikhlasan itu adalah kalau kita sudah mampu mengubah perasaan negative tersebut menjadl perasaan nyaman, damai, cinta, syukur dan bahagia.






(Yustinus Setyanta)

Selasa, 05 April 2016

HUJAN RAHMAT

Allah Sang Pencerah 
Tenangkan jiwa yang gundah 
Membujuk hati yang gelisah 
Walau menggunung rasa salah

Roh Pemersatu yang handal 
Tak terhalang oleh rasa gagal 
Tawarkan air hidup yang kekal 
Bangkitkan cinta yang radikal

Oh Sang sumber segala rahmat 
Kau teladan dan pemberi hati taat 
Penuhi kami dengan bakti yang kuat 
Jadi pembawa berkat penuh hikmat



(:Yustinus Setyanta)






Sabtu, 26 Maret 2016

PASKAH 2016

FREND, kasih Allah Bapa yang Mahakuasa dan Maharahim bener-bener JEMPOL, penuh SIMPATI dan secerah MENTARI. Lebih luas dari benua ESIA, lebih besar dari ukuran XL, Dia BEBAS-kan kita dari dosa walaupun Dia memiliki kartu AS kita karena kita adalah STAR ONE di mata-Nya. Oleh karena itu kita wajib CERIA. Percaya dan yakin pada-Nya adalah pilihan JITU & SMART. Oke ?!?


P eristiwa
A gung
S alib
K ristus
A tas
H idup kita


Melalui kebangkitan Kristus kita memperoleh kemenangan, pengampunan, kesempatan, harapan-harapan yang baru di dalam-Nya dan hidup bersatu dengan Tuhan.

Selamat Paskah 2016


Kamis, 24 Maret 2016

SUDAH SELESAI

Dengan tertatih-tatih 
Dengan berdarah-darah 
Dengan jatuh-bangun nan susah payah

Engkau tetap melangkah 
Engkau redam s'mua amarah 
Engkau hapus semua salah

Di bukit golgota/tengkorak itu 
Di palang kayu itu 
Dengan tangan-kaki terpaku

Dengan berhiaskan mahkota duri 
Seusai meminum anggur asam dari buli-buli 
Berkatalah Engkau "Sudah Selesai!"





















{: Yustinus Setyanta}

Rabu, 23 Maret 2016

HUBUNGAN DENGAN AUDIENS

Pada awalnya, sebelum media massa ada, audiens adalah sekumpulan penonton drama, permainan dan tontonan. Setelah ada kegiatan komunikasi massa, audiens sering diartikan sebagai penerima pesan-pesan media massa.

McQuail (1987) menyebutkan beberapa konsep alternatif tentang audiens sebagai berikut:
Audiens sebagai kumpulan penonton, pembaca, pendengar, pemirsa. Konsep audiens diartikan sebagai penerima pesan-pesan dalam komunikasi massa, yang keberadaannya tersebar, heterogen, dan berjumlah banyak. Pendekatan sosial budaya sangat menonjol untuk mengkaji konsep ini.
Audiens sebagai massa. Konsep audiens diartikan sebagai suatu kumpulan orang yang berukuran besar, heterogen, penyebaran, dan anomitasnya serta lemahnya organisasi sosial dan komposisinya yang berubah dengan cepat dan tidak konsisten. Massa tidak emiliki keberadaan(eksistensi) yang berlanjut kecuali dalam pikiran mereka yang ingin memperoleh perhatian dari dan memanipulasi orang-orang sebanyak mungkin. McQuail menyatakan bahwa konsep ini sudah tidak layak lagi dipakai.
Audiens sebagai kelompok sosial atau publik. Konsep audiens diartikan sebagai suatu kumpulan orang yang terbentuk atas dasar suatu isyu, minat, atau bidang keahlian. Audiens ini aktif untuk memperoleh informasi dan mendiskusikannya dengan sesama anggota audiens. Pendekatan sosial politik sangat menonjol untuk mengkaji konsep ini.
Audiens sebagai pasar. Konsep audiens diartikan sebagai konsumen media dan sebagai audiens (penonton, pembaca, pendengar, atau pemirsa) iklan tertentu. Pendekatan sosial ekonomi sangat menonjol untuk mengkaji konsep ini.

Konsep-konsep di atas tentu saja tidak saling eksklusif, secara empiris para pengelola/pemilik maupun pengguna media massa memaknai audiens sebagai perpaduan konsep ke satu, empat, dan tiga.

Melvin De Fleur dan Sandra Ball-Rokeach (dalam Nurudin, 2004; Rakhmat, 1994) mengkaji interaksi audiens dan bagaimana tindakan audiens terhadap isi media. Mereka menyajikan tiga perspektif yang menjelaskan kajian tersebut. Ketiga perspektif itu adalah sebagai berikut:

1. Individual Differences Perspective. Perspektif perbedaan individual memandang bahwa sikap dan organisasi personal-psikologis individu akan menentukan bagaimana individu memilih memilih stimuli dari lingkungan, dan bagaimana ia memberi makna pada stimuli tersebut. Berdasarkan ide dasar dari stimulus-response, perspektif ini beranggapan bahwa tidak ada audiens yang relatif sama, makanya pengaruh media massa pada masing-masing individu berbeda dan tergantung pada kondisi psikologi individu itu yang berasal dari pengalaman masa lalunya. Dengan kata lain, masing-masing individu anggota audiens bertindak menanggapi pesan yang disiarkan media secara berbeda, hal ini menyebabkan mereka juga menggunakan atau merespon pesan secara berbeda pula.

Dalam diri individu audiens terdapat apa yang disebut konsep diri, konsep diri mempengaruhi perilaku komunikasi -mempengaruhi kepada pesan apa kita bersedia membuka diri, bagaimana kita mempersepsi pesan itu, dan apa yang kita ingat. Dengan kata lain, konsep diri mempengaruhi terpaan selektif, persepsi selektif, ingatan selektif.

2. Social Categories Perspective. Perspektif ini melihat di dalam masyarakat terdapat kelompok-kelompok sosial yang didasarkan pada karakteristik umum seperti jenis kelamin, umur, pendidikan, pendapatan, keyakinan beragama, tempat tinggal, dan sebagainya. Masing-masing kelompok sosial itu memberi kecenderungan anggota-anggotanya mempunyai kesamaan norma sosial, nilai, dan sikap. Dari kesamaan itu mereka akan mereaksi secara sama pada pesan khusus yang diterimanya. Berdasarkan perspektif ini, pemilihan dan penafsiran isi oleh audiens dipengaruhi oleh pendapat dan kepentingan yang ada dan oleh norma-norma kelompok sosial. Dalam konsep audiens sebagai pasar dan sebagai pembaca, perspektif ini melahirkan segmentasi. Contoh: Anak-anak membaca Bobo, Yunior, Ananda. Ibu-ibu membaca Kartini, Sarinah, Femina. Kaum Islam membaca Sabili, Hidayah.

3. Social Relation Perspective. Persektif ini menyatakan bahwa hubungan secara informal mempengaruhi audiens dalam merespon pesan media massa. Dampak komunikasi massa yang diberikan diubah secara signifikan oleh individu-individu yang mempunyai kekuatan hubungan sosial dengan anggota audiens. Tentunya perspektif ini eksis pada proses komunikasi massa dua tahap, dan atau multi tahap.

Sejarah penelitian/pembahasan mengenai audiens telah dimulai seiring dengan penelitian tentang efek komunikasi massa. Pada awalnya, audiens dianggap pasif (baca teori peluru (Bullet Theory) atau Model Jarum Hipodermis). Namun pembahasan audiens secara intensif yang dimulai tahun 1940, Herta Herzog, Paul Lazarsfeld dan Frank Stanton (dalam Barran & Davis, 2003) memelopori mempelajari aktifitas audiens (yang kemudian melahirkan konsep audiens aktif) dan kepuasan audiens. Misal, pada tahun 1942 Lazarfeld dan Stanton memproduksi buku seri dengan perhatian pada bagaimana audiens menggunakan media untuk mengorganisir pengalaman dan kehidupan sehari-hari. Tahun 1944 Herzog menulis artikel Motivation and Gratifications of Daily Serial Listener, yang merupakan publikasi awal tentang penelitian kepuasan audiens terhadap media.

* * * * *

Presentasi dibuat untuk ditampilkan di hadapan audiens. Audiens yang tertentu. Mereka spesifik dan berbeda-beda pada setiap presentasi.

Mengenali siapa audiens Anda – yaitu orang-orang yang akan datang untuk melihat dan mendengarkan Anda – akan membantu kita memahami bagaimana mereka mencerna informasi, dan apa yang ingin mereka dengar dari sebuah presentasi. Keuntungannya? Anda bisa melakukan penyesuaian agar presentasi Anda mampu mempengaruhi audiens dengan efektif.

Jika kita melihat 3 komponen yang saling terkait dalam sebuah presentasi, salah satu kunci penting presentasi adalah audiens. Anda tampil memberikan presentasi dan menciptakan sebuah proses komunikasi, adalah untuk mereka.


.



- Mengenal Audiens Sangat Penting

Tak kenal maka tak sayang, kata orang. Bagaimana memahami dan memberikan apa yang audiens inginkan jika Anda tak mengenal siapa mereka? Ketika Anda tidak tahu sudut pandang apa yang mereka gunakan ketika mendengarkan Anda, proses komunikasi tidak akan terjalin.

Anda kesulitan untuk menyambungkan diri dengan mereka, dan mereka kesulitan untuk memahami Anda. Ini berujung pada frustrasi: Anda frustrasi karena tidak bisa membuat mereka mengerti, dan mereka pun frustrasi karena kesulitan memahami Anda.

Sebaliknya jika Anda mengenal audiens dengan baik. Presentasi yang Anda bawakan menjadi mudah, karena Anda tahu betul apa yang mereka inginkan. Anda dapat menentukan mana informasi yang harus disampaikan dan mana yang tidak perlu. Meyakinkan audiens pun menjadi jauh lebih mudah, karena Anda mengerti faktor apa yang mempengaruhi mereka dalam mengambil tindakan.

Mengenal audiens bukan sebatas mengetahui bahwa mereka adalah atasan Anda, rekan kerja, mahasiswa, atau masyarakat umum. Mengenal audiens mencakup mengenal nama, posisi mereka dalam organisasi, keputusan apa yang biasa mereka ambil, dan apa yang mereka butuhkan dari presentasi Anda. Tak kalah penting, mengapa mereka datang untuk menyaksikan presentasi Anda.

Kenali audiens. Inilah yang membedakan seorang presenter hebat dari sekumpulan para pelaku presentasi yang biasa saja. Seorang presenter hebat akan terlebih dahulu berusaha mengenali kepada siapa mereka berbicara, kemudian menyesuaikan isi pembicaraan agar relevan dan efektif.

Para presenter biasa tidak merasa penting untuk mencari tahu siapa audiensnya. Mereka hanya akan memberikan presentasi yang sama kepada berbagai audiens yang berbeda. Setiap komunikasi bersifat unik. Komunikasi sangat tergantung kepada siapa Anda menyampaikannya dan dalam situasi bagaimana komunikasi itu disampaikan. Presentasi, adalah sebuah komunikasi

- Menjalin Hubungan Dengan Audiens

Media arus utama dihadapkan pada tantangan dunia digital yang memiliki gaya interaksi berdeda dengan audiensnya. Menjalin kontak dengan audiens secara personal atau melalui media dering menjadi cara baru yang harus ditempuh untuk memperkuat kehadirannya.

Pengunjung akan tetap setia kepada situs berita jika isinya relevan dengan kehidupan mereka. Pemberitaan sebagai sebuah percakapan bukan hanya memberikan informasi, melainkan juga melibatkan pembaca.

Terdapat lima prinsip sebagai strategi menarik keterlibatan pengunjung. - Mengadakan temu audiens secara langsung sekaligus untuk memperdalam loyalitas mereka kepada media. - Interaksi dengan audiens melalui media sosial, tayangan secara real time, blogging, hingga mengomentari pedapat. - Menyediakan konten lokal yang spesifik sesuai keinginan audiens. - Memberdayakan audiens untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka. Aplikasi yang disediakan memudahkan pengguna memilih informasi yang paling penting bagi mereka atau menyediakan platform berita interaktif yang memungkinkan audiens turut berkontribusi. - Mengukur efektivitas dan nilai interaksi. Dalam hal ini, parameter keberlangsungan bisnis harus lebih diutamakan dibandingkan jumlah retweeks atau likes di Facebook.

Salah satu contoh yang digagas perusahaan media dalam temu audiens yang dilakukan perusahaan media itu ialah "GeekWire" di Seattle, Amerika Serikat, menjadi jalur yang efisien untuk mempertemukan audiens dengan kontak bisnis.

Salam hangat. Semoga bermanfaat









{Yustinus Setyanta}

FENOMENA SASTRA DIGITAL

Rasanya, di masa sekarang, dimana nasib sastra miris dan nyaris tenggelam, bahkan sastrawan sulit untuk dihormati. Orang-orang, yang merasa bukan penyair, kemudianmenyingkir. Menghindar, tidak minat, bahkan menjauhi sastra. Kajian-kajian sastra pun sepi regenerasi.

Tengoklah komunitas-komunitas sastra sekarang ini (wacana ini saya tulis), di Semarang misalnya, hanya ada sekitar lima sampai sepuluh orang yang aktif. Itu pun kadangkala di antaranya sering tidak hadir saat diskusi berkala digelar. Belun lagi, sastra seringkali dihadapkan pada situasi yang semakin tak berarti di dunia akademik Indonesia. Sastra seakan tak punya gaung dan taring yang tajam untuk unjuk gigi ke permukaan. Tak punya makna dan nilai sosial. Alhasil, sastra mudah disingkirkan. Akhirnya, karya sastra hanya dibicarakan antarsastrawan dan bila masuk sistem pendidikan cuma dijadikan subtema, sebagai pemanis pada mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Beberapa penyair yang getol menyuarakan tentang pentingnya menggalakkan sastra di ruang digital. Saat dimana keberadaan sastra cetak cenderung bergantung pada standar redaktur media dan tempat diterbitkan. Setidaknya, kehadiran sastra digelar menjadi alternatif penting dalam menyebarluaskan kecintaan terhadap sastra kepada orang-orang yang dulu tidak memiliki akses terhadapnya. Keterbatasan itu misalnya, karena tidak memiliki biyaya untuk membeli buku sastra atau berlangganan koran. Dengan demikian, kehadiran sastra dalam bentuknya yang digital membuat sastra semakin cair dan terbuka. Karya-karya sastra kian mudah diakses banyak orang dengan bentuknya yang kian beragam.

Twitter, facebook merupakan salah satu dari jaringan ruang sosial maya yang getol dimanfaatkan kegiatan sastra. Sebelumnya, kegiatan sastra juga memenuhi ruang teknologi komunikasi global, seperti; Blogspot, Wordpress, atau friendster. Ini pergeseran media sastra dari cetak ke ruang digital yang kian menguat di Indonesia beberapa tahun belakangan. Dengan jaringan yang kian mudah, cepat dan massal, dunia sastra leluasa dimasuki siapa saja.

Elitisme sastra--yang dulu seolah sakral dan hanya digenggam kalangan sastrawan saja--kini mencair. Setiap orang bisa ikut ambil bagian, asal rajin menulis dan mengirimnya. Semuanya berlangsung secara bebas, tanpa batas, demokratis, dengan bentuk dan tema beragam.





- Teks Cetak.

Para pelaku sastra yang terbiasa dengan teks cetak juga masuk ke ruang ini. Tak pelak fenomena sastra digital pun mendapati responsnya yang positif. Kemunculan sastra di ruang digital diharapkan mampu memperkenalkan dunia seni tulis kepada orang-orang yang sebelumnya tidak mengenal sastra. Hal itu baik guna mendekatkan dan membuat masyarakat menghargai literatur, baik karya penulis lokal maupun asing.

Oleh sebab itu, dalam proses globalisasi seperti sekarang ini, janganlah sastra menjadi objek, tetapi sastra harus mengambil posisi sebagai subjek dalam perubahan itu. Sastra Indonesia harus menjadi kekuatan. Maka, tugas para sastrawanlah yang harus terus melahirkan karya-karya yang bermakna dengan penuh kejelian mengangkat tema dan isu lokalitas dalam imsjinasinya. Dengan demikian, sastra bisa dijadikan tempat melakukan pengembaraan intelektual dan sepiritual bagi nilai-nilai kebenaran. Salah satunya lewat sastra digital, diharapkan akan meningkatkan kebiasaan menulis di kalangana masyarakat yang sudah lama diperjuangkan lewat konvensional. Dan, orang-orang tidak perlu takut lagi menulis sastra, tanpa peduli mereka sastrawan atau bukan. Yang penting karya-karya itu direspons secara postif dan dimaknai.

Pada akhirnya posisi sastra selalu berubah seiring perkembangan zaman. Jikalau dulu, sastra dianggap karya yang adilihung atau tinggi, kini lebih merakyat. Kehadiran sastra digital mendorong demikratisasi di dalam dunia kesusastraan. Kedudukan pe-nulis tidak hanya di monopoli para penyair atau elit sastrawan, tetapi juga mencakup orang bisa atau dalam kata lain orang bukan dari kalangan sastrawan.

Jadi sangat mungkin kedepan bakal muncul bentuk-bentuk ekspresi baru, unik, bahkan ekstrem, dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informsi. Setelah selama ini hanya didominai dua hal: karya sastra yang berupa tulisan dan ilustrasi dengan puisi, sajak tipografi dan kalimat-kalimat yang disusun sebagai gambar. (=_=) yts.









(Yustinus Setyanta - Jogja)