Kamis, 06 Maret 2014

FANA

Bunga-bunga indah pada akhirnya akan layu, gugur, membusuk lalu menyatu dengan tanah. Demikianlah betapa sementaranya hidup ini. Namun, ketidak-abadian tidak berarti bahwa semuanya sia-sia saja. Betapa pun juga, walau hanya sesaat yang singkat, ia telah memberikan keindahan dan keharumannya kepada dunia. Dan dunia pun tak pernah sama jika ia tak pernah hadir. Setiap keberadaan selalu membawa berita bahwa hidup itu ada. Nyata. Dan tak pernah sia-sia.

Maka bilamana hidup terasa berat, percayalah bahwa kita tidak sendirian. Tidak pernah sendirian. Manusia harus bergulat dengan dirinya sendiri untuk meraih pemahaman tentang makna keberadaannya di dunia. Kita memang sendirian dalam menghadapi pergulatan itu, tetapi karena setiap orang mengalami hal yang sama, maka kita tidak boleh menganggap bahwa hanya kita sendiri yang berbeban pun terhebat. Tuhan menciptakan keberadaan kita bukan untuk pasrah dan menyerah pada kesulitan-kesulitan. DIA menciptakan kita untuk berjuang menghadapi dan menerima kesulitan itu sebagai sebuah berkah bagi kehidupan.

Keberadaan kita sendiri menyiratkan bahwa Tuhan tak pernah putus asa dalam membuat kita ada. Dan karena DIA tak pernah bosan kepada kita, mengapa kita harus menyerah serta ingin melarikan diri dari kesulitan kita? Memang, kita bukanlah Tuhan sendiri, bukan!!! tetapi kita harus ingat bahwa DIA memberikan kita untuk dunia sebagai berkah, dan karena itu kita mempunyai kewajiban sekaligus kesempatan untuk membagikan berkah yang telah kita terima kepada dunia.

Demikianlah, setiap kelahiran selalu bermakna bahwa Tuhan percaya kepada kita yang diciptakan-Nya dan sebab itu, kita haruslah menjaga kepercayaan itu sebagai suatu tanggung jawab kepada-Nya. Tanggung jawab untuk tidak mudah menyerah kepada kesulitan yang harus kita hadapi. Tanggung jawab untuk membagikan diri kita kepada dunia, bukan sekedar untuk kedamaian kita saja, tetapi terlebih-lebih untuk kedamaian bagi seluruh alam semesta. Dan percayalah keberadaan kita berarti dan selalu berarti dalam kehidupan dunia.

Bunga-bunga yang indah itu pada akhirnya memang akan layu, lapuk, gugur dan kemudian membusuk serta menyatu kembali dengan bumi. Tetapi baik saat ia mekar maupun saat ia kembali ke bumi, ia selalu akan membagikan berkah keberadaannya bagi alam semesta yang hidup. Dengan membagikan keindahan dan keharumannya. Dengan menjadi humus yang menyuburkan kehidupan baru. Jadi percayalah bahwa tidak ada kehidupan yang sia-sia. Tidak ada kehidupan yang tak bermanfaat. Kehidupan, secara keseluruhan, adalah hadiah terindah Tuhan bagi kita. Kita semua.Dan setiap manusia adalah peziarah, berasal dan kembali kepada ALLAH.

Yustinus Setyanta




Menapak Dan Terbang Ke Maya

Menapak kaki ke bumi maya...
Sejenak bertamasya menuju alam nirmala...
Harum senyuman berjuta bianglala...
Bertatap wajah maya, bertemu tubuh maya...

Langit pagi pun merona...
Kala surya terbit di balik ufuk timur...
Menjalani hidup dalam karya dan tindakan nyata...
Membujur melintasi serpihan umur...

Terbang ke langit maya...
Di sana kita bersua dan bertutur sapa...
Telinga 'kan terus di buka...
Buat berjuta kata terlontar tanpa nada...

Dalam suka pun duka kita bersama...
Menikmati pesona tiada tara...
Kita biarkan diri sejenak mengangkasa...
Di gegap gempita dunia maya....

Senja pun mengajak berdansa...
Berbagai butiran aksara....
Berbalut aneka rasa dan warna...
Tergoreslah seuntai kata meracik makna...

Kita mungkin telah layu dan tak bisa...
Untuk saling bertemu dan bertatap muka...
K'rena jarak bentang pisahkan kita...
Aku di sini, engkau ada di sana...

Kita mungkin tak selalu bersama..
Untuk saling bertutur sapa...
Karena kesibukan-kesibukan kita...
Pada kehidupan kita di dunia nyata...

Menatap cakrawala maya
Berhamburan kata-kata di sana...
Ku baca dan kutulis sapaan untuk anda...
Salam damai bagimu semua...

Yustinus Setyanta
Jogja






Rabu, 05 Maret 2014

OASE (Si Burung Pipit)


Di sebuah hutan hiduplah seekor burung pipit. Ia hidup di hutan itu bersama kawan-kawannya yang lain. Mereka hidup dengan damai. Namun terdengar kabar bahwa hutan akan dihancurkan. Karena itulah, pipit mencari perlindungan. Ia bertemu seekor burung merak yang berbulu sangat indah.
"Hey burung pipit, kapan kamu akan tumbuh besar?" kata merak mengejek.
"Takdirku memang kecil, merak," jawab pipit sedih.
"Lalu kapan bulumu itu berubah warna jadi indah?"
wajah pipit berubah muram. Ia semakin sedih mendengar ejekan merak.
"Buluku memang tak akan seindah kamu, tapi janganlah sombong merak."
"Hey pipit, kalau badanmu tetap segitu dan bulumu tak berubah warna, kamu tak akan bisa menyelamatkan diri dari manusia. Meski aku tak sekuat elang, buluku sangat indah. Pasti manusia suka dengan buluku dan tak akan membunuhku. Mereka akan memeliharaku."

Setelah obrolan itu terbanglah pipit, dan di tengah perjalanan pipit bertemu elang.
"Hey, pipit apa dirimu sudah mendengar berita tentang hutan kita ini?"
"iya, elang" "Aku adalah burung perkasa, aku pasti bisa menjaga hutan ini."
"Hey, pipit kalau kamu tak bisa melawan mereka, kau akan ikut dihancurkan!"
"Bukankah kamu akan mempertahankan hutan kita ini elang?"
"Aku adalah burung yang kuat, aku mampu menjaga diriku sendiri, kalau kamu jadi burung perkasa seperti aku, kamu juga akan bisa selamat"
Sesaat setelah mengejek pipit, elang kembali terbang meninggalkan pipit. Si burung pipit pun mulai beranjak pergi dari tempat itu, lagi-lagi di tengah perjalanannya pipit bertemu burung beo.
"Wahai burung pipit kamu pasti sudah mendengar kabar kalau hutan kita akan dihancurkan. Siapa yang kuat, ia akan selamat"
"Aku sedang mencari seseorang yang mampu menyelamatkanku, beo."
"Hahahahaa....kasihan sekali kamu pipit. Meski tak sehebat elang, aku mampunyai kehebatan meniru suara manusia. Mereka banyak yang mengidolakan aku karena keindahan suaraku itu. Manusia pasti akan memeliharaku nanti"

"bahkan mereka juga selalu mengikutkan aku dalam perlombaan kicau burung. Jika aku menang, aku semakin disayang" tambah si beo. Pipit semakin galau, kegalauannya sampai memuncak tingkat propinsi, semakin sedih. Ia hampir putus asa, matahari kian miring kebarat, hari semakin gelap. Hari makin berganti. Namun masih ada beberapa hewan yang masih bertahan. Hanya monyet yang masih bergelantungan seakan tak peduli. "Hey, monyet, mengapa kau masih saja ceria sedangkan hutan kita terancam?"
"Pipit apa yang kamu khawatirkan sayang?"
"Kalau hutan kita dimusnahkan manusia, kita akan ikut dimusnahkan juga, monyet. Kita akan mati!" teriak pipit keras.
"Hahahawkwkwkkkk....." gelak tawa monyet mengundang tanya pada hati pipit.
"Mengapa kau malah tertawa monyet?" tanya pipit bingung. "Yang dimusnahkan manusia adalah yang menguntungkan manusia. Aku tak membawa keuntungan apa-apa untuk mereka. Aku tak memiliki bulu indah seperti merak, tak juga punya suara merdu seperti beo, aku juga tak bisa sekuat elang. Apa yang dicari manusia dari diriku?"
"Betulkah? Bukankah yang menguntungkan manusia justru akan dipelihara?"
"kau salah pipit. Manusia akan mengambil bulu indah merak, menjual suara merdu beo dengan menyuruhnya bernyanyi tanpa henti agar orang mau membeli beo, juga memajang tubuh elang di museum untuk dipertontonkan kegagahannya" Belum lama pipit berjalan, tiba-tiba terdengar suara,
"Aadduuuhhhh..."
"Siapa itu?" pipit mencari tahu. Pipit menoleh ke kanan dan ke kiri namun tak menemukan sesuatu. "Ini aku, semut di bawah kakimu."
"Oh, semut maaf yah. Aku tak lihat kamu."
"Aku memang sangat kecil, di bawah dan selalu diinjak-injak," sahut semut dengan sedihnya"
"kalau gitu kamu di atas saja semut," kata pipit menasihati. "Aku tak bisa terbang seperti kamu, pipit."
"Oh, iya kamu kan tak punya sayap seperti aku."
"Tadi puluhan manusia menginjak-injakku, aku seperti tidak berharga, tak berguna" Pipit terbelalak kaget mendengar ucapan semut.
"Betulkah semut?"
"Iya, mereka masuk hutan kita dan membawa teman-teman kita yang hebat, kuat" Pipit semakin terkejut. "Siapa semut?"
"Si merak yang memiliki bulu indah, elang yang gagah perkasa dan beo yang bersuara merdu. Mereka yang dicari manusia."
"Apa!!" pipit seolah tak percaya apa yang terjadi.
"Aku memang tak sehebat mereka, pipit. Namun aku sangat bersyukur karena kekuranganku ini, aku selamat dari bahaya".


Pipit tersenyum bahagia, lega dan legawa. Apa yang dikatakan semut benar. Kekurangan dan kelemahan yang dimilikinya tak selalu mendatangkan keburukan pada dirinya.
Sekian.


Oleh : Yustinus Setyanta
           Jogja





Minggu, 02 Maret 2014

GALOMBANG KEHIDUPAN

Hari demi hari t'lah dilalui
Jalanan yang berliku t'lah dilewati
Tebing-tebing nan tinggi pun didaki
Lautan luas pun kian disebrangi
Sungai-sungai tak luput kan diarungi

Tak perduli hujan, panas ataupun dingin
Tak perduli jurang ataupun terjalnya bebatuan
Tak usah hiraukan gelaombang yang datang menerjang
Tak perlu takuti meskipun air terjun dihadapan menantang

Arungi lautan kehidupan
Lalui dengan pelahan
Serta bijaksana menghadapi gelombang kehidupan
Hanya nahkoda iman yang terus dipertahankan
Demi keseimbangan layar yang kian berkobar
Agar tak tenggelam dilautan tak ber-air

TUHAN kan selalu menjaga, maka tak perlu gentar
Meskipun diterjang badai dan halilintar
Dengan mengibarkan layar keyakinan dan
Mengendalikan nahkoda keimanan


Yustinus Setyanta
Jogja












WOIII....APA KABAR????

Hai, apa kabar?”
“Baik. Kalau kau?”
“Baik juga. Terima kasih”
“Syukurlah kalau begitu”
Begitulah percakapan yang umum kita dengar dan kita ucapkan setiap saat, jika kita bertemu dengan teman dan keluarga, terlebih bila dalam jangka kita tidak bersua dengan mereka. Dan entah, kita memang sungguh dalam keadaan baik-baik saja maupun dalam situasi yang teramat sulit, umumnya kita selalu menjawab bahwa semuanya baik dan tidak ada masalah apa-apa. Kita tersenyum walau dalam hati sedang gundah. Karena terkadang kita merasakan bahwa mereka yang menanyakan kabar kita sesungguhnya hanya bertanya sambil lalu. Karena demikianlah kebiasaan yang umum dilakukan oleh orang-orang. Demikianlah yang biasa dipercakapkan saat kita bertemu. Demikianlah.

Maka, walau keadaan kita sungguh buruk, kita tetap memberikan senyum pada orang-orang. Kita tetap memberikan sebuah harapan bahwa sungguh tak ada masalah dalam perjalanan hidup kita. Kita sering hidup dalam kontradiksi, saat apa yang kita tampakkan sama sekali berbeda dengan apa yang kita pikirkan. Dan kita rasakan. Untuk menunjukkan bahwa kita mampu hidup. Untuk menunjukkan bahwa tak ada beban yang tak dapat kita pikul. Kesedihan dan kesusahan kita cukuplah untuk diri kita sendiri. Dan sama sekali tak perlu untuk dibagikan kepada orang lain. Karena mereka tak pernah akan memahami. Karena mereka bisa berbuat apa?

Hidup seseorang memang sesuatu yang unik. Unik dan satu-satunya dalam riwayat masing-masing. Dan takkan pernah sama, walau pengalaman yang dialami mirip atau bahkan serupa. Apa yang ada di dalam pikiran seseorang, apa yang ada di dalam pikiran kita, siapa yang tahu? Bahkan jika pun kita mampu mengutarakannya, sering pengalaman kesusahan kita terasa berlebihan bagi orang lain. Maka jika hidup lebih mudah dengan menyimpan duka kita sedalam-dalamnya, mengapa kita harus mempersulitnya? Bukankah lebih baik kita membagikan cahaya harapan dari pada membuat orang-orang ikut menjadi muram? Apalagi belum tentu mereka mampu membuat kesulitan kita terjawab. Atau bahkan, jangan-jangan mereka bahkan hanya mentertawakan kelemahan kita.

Demikianlah, sebagian besar dari kita setiap saat sering menyembunyikan fakta kehidupan. Dan tentu saja, kita merasa itu adalah hal yang biasa dan umum. Dan tidak ada yang salah dengan situasi demikian. Kesedihan dan kesusahan kita cukuplah untuk diri sendiri. Cukuplah untuk kita saja. Selebihnya biarlah dunia terasa tetap bersinar dengan cahaya harapan dan kegembiraan. Dengan begitu, kita mampu untuk tetap tersenyum. Kita tetap mampu untuk menerima hidup ini apa adanya. Apa adanya. Bukankah itu lebih indah dan bermanfaat, walau mungkin bukan buat kita? Tetapi percayalah, bahwa dengan semangat yang kita berikan, pada akhirnya akan kembali kepada diri kita. Hidup ternyata tidak sesedih dan sesulit gambaran kita. Sebab, syukurlah semua berjalan sebagaimana mestinya. Sebagaimana adanya. Susah dan senang punya saatnya sendiri. Punya saatnya sendiri.


Yustinus Setyanta
Jogja



PERSEMBAHAN CINTA

Bukan bunga segar yang kuhantar
Buat persembahan pada-Mu di altar
Hanya untaian bunga pengabdian
Yang layu oleh keringnya jiwa, terimalah Tuhan jadi persembahaan

Bukan pula seonggok harta kuhantar
Buat persembahan pada-Mu dialtar
Hanya segenggam harapan dan cinta
Yank kami rajut dengan benang kasih, seirama

Terimalah Tuhan
Jadi persembahan

Hati ini menyembah-Mu
Jiwa ini berserah pada-Mu
Beri kami cinta dan rahmat
Cukup sudah 'tuk jadi berkat


Yustinus Setyanta




TEMBOK

Walau secara keseluruhan sering kita merasa betapa waktu melintas hampir tak terasa, dan betapa seminggu, sebulan dan setahun berlalu seakan mimpi saja. Namun, di momen-momen saat ini, sering pula kita merasa betapa lambatnya waktu, merambat detik ke detik seakan tak kunjung usai. Dan dalam kehidupan yang bergerak dengan monoton, kita merasa hampa, tak berdaya bahkan membosankan sehingga kadang kita berpikir betapa sia-sianya segala yang sedang kita jalani sekarang.

Kita yang hidup dalam kungkungan tembok tak tembus pandang, kita merasa seakan terjaring dengan jiwa yang penuh luka tetapi tak berdarah, perih tetapi tak mematikan, pilu tetapi tak nyata. Kita merasa ada sesuatu yang salah namun tak tahu apa dan mengapa salah. Hidup tetap berjalan sebagaimana mestinya. Normal walau menyakitkan. Kadang penuh tawa walau hampa. Dan kita toh masih dapat bertutur dengan penuh semangat namun kosong. Kita kehilangan diri kita disaat kita sadar bahwa kita sungguh nyata ada. Mengapa? Ada apa? Dan untuk apa ini semua kita jalani?

Tembok tebal mengelilingi kita. Bukan hanya sekedar tembok beton empat dinding tetapi lebih dari itu. Dia tak nyata namun terasa. Dia tak berwujud namun ada. Kita pun hidup dan bergerak sebagai alat mekanis tanpa jiwa, sering hanya bertindak sebagai gema yang menirukan segala apa yang dianggap biasa dan normal oleh sekeliling kita sehingga sering kita terperosok dalam jurang kesepian, kesendirian, tak dipahami sekaligus tak memahami hingga tersudut di sisi paling kelam dan gelap dimana kita ingin menyembunyikan diri kita seluruhnya.

Tetapi siapakah kita? Sungguhkah kita ini nyata? Dan jika kita memang nyata, untuk apa kita disini? Apapun yang kita lakukan sering hanya sebatas apa yang diinginkan oleh lingkungan kita untuk lakukan. Dan kita kehilangan kendali atas pikiran dan perasaan kita. Buntu. Tembok-tembok tebal ini sungguh mengungkung kita dalam ketidak-berdayaan yang harus kita terima dan jalani setiap saat. Setiap hari. Tanpa pilihan lain. Tanpa kemungkinan lain. Kita ada tetapi dengan tanda tanya besar. Kita nyata tetapi sesungguhnya itu bukan kita. Bukan kita.

Adakah pilihan lain yang dapat kita lakukan tanpa merusak diri kita dan lingkungan kita? Adakah pilihan lain dari terbenam dan mati tetapi aman atau bangkit dan hidup tetapi melawan semua hal yang terasa menghimpit jiwa kita? Sungguh, hidup sering terasa membosankan, menyakitkan dan bahkan menjadi tanpa harapan. Pahit. Kelam. Waktu berjalan seakan merayap, lamban teramat lamban seakan tak berakhir. Seakan tak berujung. Hingga suatu saat, jauh kemudian, selewat waktu dan kita tetap disini, kita dapat tiba-tiba sadar betapa ternyata sebulan telah hilang. Setahun berlalu. Sepuluh tahun. Dan apa yang telah silam tak mungkin lagi kembali. Tak bakal terulang lagi. Lenyaplah dia. Lenyap...

Yustinus Setyanta