Tautan waktu terus berjalan
Iring langkah kita pada kebersamaan
Bagai dua sejoli sedang berpeluk
Diibaratkan makan sepiring semangkok
Wangi khas musim hujan menyertai
Bertaut tangan menyalami
Menunduk saling menhormati dan menghargai
Kehangatannya terasa dan terhayati
Muncul lampion dan lilin merah
Begitu meriah dan menyala cerah
Semarak dan bersorak sorai
Gong Xi Fat Chai
Di tahun baru imlek ini
Di tengah kesibukan dan hiruk pikuk
Ku sempatkan diri menulis puisi
Sebagai ungkapan tulus, ku ucapkan selama tahun baru imlek
Yustinus Setyanta
Kamis, 30 Januari 2014
Rabu, 29 Januari 2014
MENJADI MANUSIA
Hidup ini bukan hanya prosa. Tetapi juga puisi. Tidak pula seragam. Tetapi beragam. Sebab itu, mengetahui tidaklah cukup. Perlu pula memahami. Menjadi manusia, kita semua tidak hanya dikaruniai akal tetapi juga perasaan. Sama seperti ada siang dan ada malam, kita membutuhkan kesenyapan, bukan hanya keriuhan. Bersamanya, kita bertindak dan juga merenungi setiap tindakan itu. Demikianlah, hidup berlangsung tidak pernah hitam putih namun berwarna-warni. Justru karena itulah, kita menerima hidup dengan penuh rasa syukur sebagai suatu anugerah yang sangat indah dari Sang Pencipta.
Maka siapapun yang berpikir bahwa dia memiliki kebenaran dengan "K" besar, sesungguhnya telah gagal memaknai hidup ini. Gagal memahami keindahan perbedaan. Bahkan gagal untuk mengerti diri sendiri. Sebab, siapakah kita yang hanya melintas sesaat di perjalanan waktu yang tak terbatas ini? Siapakah kita yang bersikap demikian pasti menghadapi pikiran manusia lain, sementara kita sendiri tak bisa memastikan pikiran kita? Dapatkah kita berkata dengan jujur bahwa kita tak pernah sesekali merasa ragu akan akal kita? Dapatkah kita dengan jujur memastikan pengetahuan yang kita terima saat ini adalah sebuah kebenaran mutlak?
Menjadi manusia sesungguhnya adalah sebuah proses untuk belajar tanpa akhir "Long Life Education". Dan mencoba untuk memahami bahwa pembelajaran itu takkan pernah sempurna. Sebab, bahkan dengan gelar secanggih apapun yang kita miliki, hanya terbatas pada secarik kertas dan tambahan di belakang nama, yang tak pernah berarti bahwa kita telah memiliki kebenaran dengan K besar sehingga saat itu kita dapat berhenti untuk memahami serta mulai memaksakan pengetahuan kita kepada dunia luas. Tidak. Hidup adalah proses untuk mendidik diri sendiri, mengolah kehendak kita dan berupaya untuk mengerti setiap tindakan yang kita lakukan beserta dampaknya terhadap semesta. Sang Pencipta tidak hanya memiliki diri kita, tidak hanya berada dalam pemahaman kita, dan anugerah-Nya tidak hanya dibagikan untuk kita saja. Kita bukanlah manusia yang istimewa, walau setiap pribadi bisa menganggap dirinya demikian.
Hidup bukan hanya prosa, tetapi juga puisi. Dan tidak seperti prosa yang penuh dengan penjelasan yang dapat disatu-artikan, puisi mengandung banyak makna yang memiliki kebenarannya sendiri-sendiri. Karena itu, setiap hidup sesungguhnya dijalani secara berbeda, walau di dalam situasi yang serupa. Kita tak pernah sama, walau terkadang bisa mirip. Apa yang kita rasakan, apa yang kita pikirkan, apa yang kita ketahui, hanya berarti suatu kebenaran bagi kita, bukan bagi sesama. Sedekat apapun kita dengan dirinya. Pada akhirnya, kita semua hanya debu yang akan lenyap tertiup angin. Pada akhirnya, kita akan menyerah dan lenyap dari kehidupan ini. Pada saat itu, haruslah kita bertanya, dimanakah kegarangan kita? Dimanakah keangkuhan kita? Dimanakah kekuatan-kekuasaan-kekayaan kita yang pernah demikian jaya kita punyai ? Dimanakah kita? Dapatkah kita memastikan bahwa apa yang kita anggap kebenaran akan memiliki kita selamanya? Dapatkah?
Sesungguhnya, jika Yang Maha Kuasa ingin menciptakan kita seragam, tidaklah mungkin IA menciptakan kita beragam. Jika IA ingin membuat kita sama, tidaklah mungkin IA menciptakan kita berbeda. Tidak! Keberagaman adalah suatu keindahan, bukannya suatu dosa atau kesalahan yang harus dilenyapkan. Keberagaman adalah suatu anugerah yang harus disyukuri karena DIA, bukannya disalahkan dan harus dilenyapkan. Bukan kita, tetapi DIA-lah Sang Pencipta. Kita hanya manusia, karena itu kita harus belajar menjadi manusia. Bukan menjadi Sang Pencipta. Hidup itu indah, jika kita mampu memahaminya. Hidup itu puisi, bukan hanya prosa. Hidup itu dijalani dengan kebenaran-kebenaran kecil yang kita miliki tanpa perlu memaksakan kebenaran kita kepada dunia. Hidup itu adalah ketidak-sempurnaan di mata masing-masing orang, walau masing-masing juga bisa menganggap dirinya sempurna. Sebab yang sempurna hanya satu. Hanya satu.
Yustinus Setyanta
Maka siapapun yang berpikir bahwa dia memiliki kebenaran dengan "K" besar, sesungguhnya telah gagal memaknai hidup ini. Gagal memahami keindahan perbedaan. Bahkan gagal untuk mengerti diri sendiri. Sebab, siapakah kita yang hanya melintas sesaat di perjalanan waktu yang tak terbatas ini? Siapakah kita yang bersikap demikian pasti menghadapi pikiran manusia lain, sementara kita sendiri tak bisa memastikan pikiran kita? Dapatkah kita berkata dengan jujur bahwa kita tak pernah sesekali merasa ragu akan akal kita? Dapatkah kita dengan jujur memastikan pengetahuan yang kita terima saat ini adalah sebuah kebenaran mutlak?
Menjadi manusia sesungguhnya adalah sebuah proses untuk belajar tanpa akhir "Long Life Education". Dan mencoba untuk memahami bahwa pembelajaran itu takkan pernah sempurna. Sebab, bahkan dengan gelar secanggih apapun yang kita miliki, hanya terbatas pada secarik kertas dan tambahan di belakang nama, yang tak pernah berarti bahwa kita telah memiliki kebenaran dengan K besar sehingga saat itu kita dapat berhenti untuk memahami serta mulai memaksakan pengetahuan kita kepada dunia luas. Tidak. Hidup adalah proses untuk mendidik diri sendiri, mengolah kehendak kita dan berupaya untuk mengerti setiap tindakan yang kita lakukan beserta dampaknya terhadap semesta. Sang Pencipta tidak hanya memiliki diri kita, tidak hanya berada dalam pemahaman kita, dan anugerah-Nya tidak hanya dibagikan untuk kita saja. Kita bukanlah manusia yang istimewa, walau setiap pribadi bisa menganggap dirinya demikian.
Hidup bukan hanya prosa, tetapi juga puisi. Dan tidak seperti prosa yang penuh dengan penjelasan yang dapat disatu-artikan, puisi mengandung banyak makna yang memiliki kebenarannya sendiri-sendiri. Karena itu, setiap hidup sesungguhnya dijalani secara berbeda, walau di dalam situasi yang serupa. Kita tak pernah sama, walau terkadang bisa mirip. Apa yang kita rasakan, apa yang kita pikirkan, apa yang kita ketahui, hanya berarti suatu kebenaran bagi kita, bukan bagi sesama. Sedekat apapun kita dengan dirinya. Pada akhirnya, kita semua hanya debu yang akan lenyap tertiup angin. Pada akhirnya, kita akan menyerah dan lenyap dari kehidupan ini. Pada saat itu, haruslah kita bertanya, dimanakah kegarangan kita? Dimanakah keangkuhan kita? Dimanakah kekuatan-kekuasaan-kekayaan kita yang pernah demikian jaya kita punyai ? Dimanakah kita? Dapatkah kita memastikan bahwa apa yang kita anggap kebenaran akan memiliki kita selamanya? Dapatkah?
Sesungguhnya, jika Yang Maha Kuasa ingin menciptakan kita seragam, tidaklah mungkin IA menciptakan kita beragam. Jika IA ingin membuat kita sama, tidaklah mungkin IA menciptakan kita berbeda. Tidak! Keberagaman adalah suatu keindahan, bukannya suatu dosa atau kesalahan yang harus dilenyapkan. Keberagaman adalah suatu anugerah yang harus disyukuri karena DIA, bukannya disalahkan dan harus dilenyapkan. Bukan kita, tetapi DIA-lah Sang Pencipta. Kita hanya manusia, karena itu kita harus belajar menjadi manusia. Bukan menjadi Sang Pencipta. Hidup itu indah, jika kita mampu memahaminya. Hidup itu puisi, bukan hanya prosa. Hidup itu dijalani dengan kebenaran-kebenaran kecil yang kita miliki tanpa perlu memaksakan kebenaran kita kepada dunia. Hidup itu adalah ketidak-sempurnaan di mata masing-masing orang, walau masing-masing juga bisa menganggap dirinya sempurna. Sebab yang sempurna hanya satu. Hanya satu.
Yustinus Setyanta
Di Saat Terlanjur Jatuh Hati
Mega putih berkelebat di sore ceria
Bersenandung kata bernada terbawa pesona
Menari angin di balik sela ranting kita
Elok suara merdu bak perindu bercerita
Udara yang terdiam memencar suasana
Menghadirkan sesimpul senyum seng surya
Bias sinar menyurut berubah jingga
Hati merindu teringat dia tercinta
(begitulah kira-kira bila sendang jatuh cinta pada seseorang hehehhe.....)
Yustinus Setyanta
SISI LAIN DARI XINCIA (IMLEK)
Peringatan tahun baru cina alias xincia atau yang biasa di kenal secara umum dengan Imlek, banyak cerita menarik di dalamnya. Masyarakat Indonesia sudah sejak dahulu kala mengenal berbagai tradisi bangsa china yang banyak bermukim dan beranak pinak melebur diri menjadi satu dengan masyarakat setempat.
imlek = hujan
Tembarucin ( sebutan lain imlek) sering di identikan dengan hujan lebat. Imlek tanpa adanya hujan berarti tidak turun nya rejeki /berkah yang berlimpah. Mengapa? Sebab sebagian masyarakat, ada mitos yang mengatakan bahwa setiap kali datang perayaan imlek maka bisa di pastikan hujan akan datang atau pas musim hijan. Seperti halnya yang terjadi pada beberapa hari ini, banyak yang mengaitkan turun nya hujan adalah karena akan datang imlek.
Ada mitos bahwa Dewa hujan pasti akan turun ke bumi menjelang perayaan tahun baru cina. dan cerita atau mitos tersebut sampai sekarang tetap di amini oleh masyarakat. Entah beneran atau cuma mitos belaka, meneketehekkkk, namun bila di pikir nie, perayaan imlek memang selalu datang pada musim penghujan tiba di antara bulan januari - februari, so.....??
barongsai, kue keranjang dan ang pau
Bagi kami yang paling di tunggu setiap kali datang nya imlek adalah atraksi barongsai yang mulai beberapa tahun silam ( sejak pemerintahan gus dur) di adakan secara terbuka bebas di muka umum, tak terelakan di jogja juga semarak. Atraksi akrobat dari pemain-pemain akrobat dengan boneka ular naga nya yang merah beserta musik yang bergerincing tetabuhan menjadi tontonan gratis yang menarik. Apalagi bila para pemain barongsai mulai melompat mengambil angpau yang di gantung di pintu atau tiang. Seperti melihat naga yang meliuk-liuk menari dengan goyang pinggulnya yang wooaaa.....boleh di bilang dengan indahnya.
Di beberapa toko kelontong atau swalayan tersedia kue yang bernama kue keranjang. Tetapi lebih berasa enak bila di bagikan atau pemberian dari warga keturunan tionghoa. Tahun kemarin saya di kasih beberapa kue keranjang yang legit dan manis. Weeee......Jadi teringat masa kecil bila di kasih kue keranjang sama tetangga yang orang keturunan, lalu kue ranjang -biasa kami menyebutnya dulu ( belakangan baru tahu kalau nama aslinya kue keranjang hehehe....hahahha...... ) di goreng dengan baluran telur yang di kocok-kocok, maknyussssss.......
Dan tak lupa yang paling di nanti oleh anak-anak adalah pembagian angpau . saya dulu pernah lho dapat isinya seribu rupiah hehehe......... bahkan uangnya masih baru aliasgress, masih bau bank.
Tradisi cina memang unik dan menarik. Sedangkan kalau banjir dan hujan lebat yang sekarang mengguyur sebagian besar wilayah Indonesia terutama Jakarta di kaitkan dengan imlek, waduh sungguh bukan hal yang logis tah. wahhhhh........ nanti bisa-bisa ada ucapannya, bukannya ”Gong shi Fa cai , melainkan NgungSi yuk coy …hehehe........ *just kidding
Selamat Hari Raya Imlek 2565,
Gong Xi Fa Cai !
恭 喜 发 财 !

.
imlek = hujan
Ada mitos bahwa Dewa hujan pasti akan turun ke bumi menjelang perayaan tahun baru cina. dan cerita atau mitos tersebut sampai sekarang tetap di amini oleh masyarakat. Entah beneran atau cuma mitos belaka, meneketehekkkk, namun bila di pikir nie, perayaan imlek memang selalu datang pada musim penghujan tiba di antara bulan januari - februari, so.....??
barongsai, kue keranjang dan ang pau
Bagi kami yang paling di tunggu setiap kali datang nya imlek adalah atraksi barongsai yang mulai beberapa tahun silam ( sejak pemerintahan gus dur) di adakan secara terbuka bebas di muka umum, tak terelakan di jogja juga semarak. Atraksi akrobat dari pemain-pemain akrobat dengan boneka ular naga nya yang merah beserta musik yang bergerincing tetabuhan menjadi tontonan gratis yang menarik. Apalagi bila para pemain barongsai mulai melompat mengambil angpau yang di gantung di pintu atau tiang. Seperti melihat naga yang meliuk-liuk menari dengan goyang pinggulnya yang wooaaa.....boleh di bilang dengan indahnya.
Di beberapa toko kelontong atau swalayan tersedia kue yang bernama kue keranjang. Tetapi lebih berasa enak bila di bagikan atau pemberian dari warga keturunan tionghoa. Tahun kemarin saya di kasih beberapa kue keranjang yang legit dan manis. Weeee......Jadi teringat masa kecil bila di kasih kue keranjang sama tetangga yang orang keturunan, lalu kue ranjang -biasa kami menyebutnya dulu ( belakangan baru tahu kalau nama aslinya kue keranjang hehehe....hahahha...... ) di goreng dengan baluran telur yang di kocok-kocok, maknyussssss.......
Dan tak lupa yang paling di nanti oleh anak-anak adalah pembagian angpau . saya dulu pernah lho dapat isinya seribu rupiah hehehe......... bahkan uangnya masih baru aliasgress, masih bau bank.
Tradisi cina memang unik dan menarik. Sedangkan kalau banjir dan hujan lebat yang sekarang mengguyur sebagian besar wilayah Indonesia terutama Jakarta di kaitkan dengan imlek, waduh sungguh bukan hal yang logis tah. wahhhhh........ nanti bisa-bisa ada ucapannya, bukannya ”Gong shi Fa cai , melainkan NgungSi yuk coy …hehehe........ *just kidding
Selamat Hari Raya Imlek 2565,
Gong Xi Fa Cai !
恭 喜 发 财 !

Yustinus Setyanta
.
Selasa, 28 Januari 2014
SEMESTA KITA
Kadang kala tak terasa betapa cepatnya waktu berlalu. Malam pergi pagi tiba. Dan pagi pun segera menghilang menuju malam kembali. Perayaan natal, tahun baru, imlek, paskah, lebaran seakan berlarian tanpa terkejar dalam ingatan. Demikian seterusnya. Dan kita, sadar atau tidak, terlena dalam perubahan yang tak terpikirkan sehingga sering merasa terkejut saat tahun akan segera berganti. Dan kalender akan segera ditukar. Begitulah kehidupan ini berlangsung. Senang, susah, tawa, tangis, apakah semua itu ada artinya dalam perjalanan hidup yang singkat ini?
Pikiran dan perasaan kita ternyata dapat menipu. Pikiran dan perasaan kita ternyata sering tak sadar akan perjalanan waktu yang telah membawa perubahan. Banyak perubahan telah terjadi dalam kehidupan nyata seiring jalannya waktu. Sementara kita masih berpikir bahwa segala sesuatu tetap. Masih beranggapan bahwa segala sesuatu masih seperti seperti apa yang kita pikirkan. Tetapi kita cenderung menafikan perubahan itu. Mungkin karena kita telah merasa nyaman dan aman dengan kondisi kita. Mungkin pula karena kita khawatir bahwa perubahan itu akan membawa kita menjadi sosok yang berbeda. Tetapi sesungguhnya kita melupakan bahwa yang dulu telah menjadi sejarah. Dan hari esok sesuatu yang mungkin akan menjadi lain sama sekali dari harapan kita. Sesungguhnya itulah tantangan bagi pikiran dan perasaan kita sekarang. Saat ini.
Siapakah kita ini? Sadarkah kita pada kenyataan yang ada di sekeliling kita sekarang? Kita, yang perlahan aus dimakan waktu, menua dengan cepat, menuju akhir yang pasti, dapatkah kita untuk berkeras menahan lajunya sang waktu? Dan haruskah itu? Bukankah kita ini hanya setitik debu di tengah lautan semesta yang tak bertepi? Bagaimana dapat kita membuat diri kita menjadi semesta itu sendiri tanpa mau menyadari betapa kecilnya kita ternyata? Betapa kecilnya. Betapa tak berdayanya. Betapa rapuhnya. Dalam perjalanan waktu, kita semua sama. Kita semua serupa.
Maka di tengah samudera kehidupan ini, dengan gelombang yang kadang mengamuk dalam badai menakutkan tetapi kadang hening menenangkan pula, kau-aku-kita-mereka, sungguh hanyalah riak-riak kecil yang tak berarti di antara alun gelombang yang tak bertepi. Walau kita adalah bagian dari pergerakan itu, kita hanya mampu untuk beralun bersama. Mungkin berbeda dalam ujud tetapi mirip dalam nasib. Keberadaan kita sungguh amat sederhana. Hidup dan menghidupi untuk menuju akhir yang pasti. Dan sesudah itu? Kita akan mendapatkan jawabannya hanya setelah kita mengalaminya. Sendiri. Masing-masing. Sebelum itu, kita bukanlah sang penentu kebenaran. Kita tidak mungkin dapat memastikan apa yang akan kita temui nanti.
Kita adalah manusia yang rapuh. Mudah retak lalu lenyap terhembus angin masa. Di tengah segara kehidupan, di antara lautan alam semesta, kita hanyalah noktah kecil, sangat kecil, yang setiap saat mengarungi nasib kita masing-masing. Seperti saat menulis satu kata, kita dapat mengubahnya kembali, memperbaharuinya, tetapi waktu yang telah lewat tak mungkin lagi dapat kita rengkuh kembali. Demikianlah, bersama waktu, kita tak berdaya sama sekali selain dari menerima dan menghadapi apa saja yang saat ini sedang kita alami. Dan kita harus meluruskan segala pemikiran kita yang sering tak sadar diri pada kemampuan dan kekuatan kita dalam hidup. Hari kemarin telah lewat dan takkan kembali. Hari esok akan tiba tetapi sering diluar jangkauan kita. Sekarang dan hanya saat ini saja kita hidup dan menghidupi diri. Dengan harapan. Dengan semangat. Dengan menjalani dan berupaya untuk menyadari betapa waktu tak mungkin kita kejar, seberapa pun hasrat kita untuk itu.
Pagi datang dan malam menyusul tiba. Hari berganti dan setiap saat kita harus menghadapi kenyataan yang ada dengan satu kepastian. Bahwa di ujungnya kelak, kita akan segera usai. Kita dan waktu akan segera berpisah. Tetapi kitalah yang akan meninggalkan sang waktu sementara dia tetap berlanjut seakan tak berujung. Dan walau kita sering melupakannya, dia tetap berjalan dengan tetap dan kelak akan melepaskan kita dalam kenangan hingga ke titik semuanya berakhir dan kita pun terlupakan. Tetapi, sementara kita ada dan masih ada, disini dan sekarang, kita, aku-kau-mereka, selalu dapat memperjuangkan hidup. Bukan dengan menghancurkannya. Bukan dengan menghilangkannya. Bukan pula dengan mengubahnya sesuai keinginan dan hasrat kita semata. Tetapi memperjuangkan keberlangsungannya dengan kesadaran bahwa, apa yang ada sekarang akan menjadi semakin baik kelak. Sepeninggal kita.
Betapa cepatnya waktu berlalu. Betapa tak terasakannya usia menelan kita. Dan semakin ke depan, semakin singkat pula waktu yang akan kita miliki. Kesadaran itulah yang perlu kita renungkan. Dengan demikian, kita dapat menikmati hari-hari kita. Dapat memperbaharui diri kita. Dan dapat menerima perubahan yang terjadi tanpa rasa pedih atau pun putus asa. Sebab waktu tak pernah berhenti. Sebab waktu selalu melaju. Ke depan. Dan jika kita tak mampu menerimanya, kita akan ditinggalkan. Kita akan dilupakan sebelum waktu kita bersamanya usai. Dan siapa yang berhenti di titik dimana dia masih ada dalam waktu, sesungguhnya telah gagal untuk menemukan makna keberadaannya sendiri di hidup ini. Baginya, dunia hanyalah mimpi yang mungkin indah tetapi tidak nyata. Sama sekali tidak nyata.
Mari kita menjalani hidup ini dengan menerimanya. Dan jika perlu, menerima sambil dengan rela mengubah pikiran dan perasaan kita. Mengubahnya menjadi lebih baik tanpa keinginan untuk menghancurkan. Tanpa ambisi untuk menguasai. Tanpa hasrat untuk menjadikannya sama dengan pikiran kita. Sebab kita hanyalah noktah yang kecil, sangat kecil, di antara kehidupan yang demikian luas. Sangat singkat di antara panjangnya sejarah yang telah, sedang dan akan terus berjalan. Dan jika esok tiba, dan kita segera akan berpisah dengannya, kita akan menemukan segala jawaban yang demikian mengusik kita sepanjang perjalanan kita. Karena hanya dengan meninggalkan waktu saja kita justru dapat mengenal dia dengan pasti. Sama seperti keindahan sebuah panorama hanya dapat kita nikmati dari kejuahan. Sama seperti kecantikan dan ketampanan seseorang selalu akan jelas jika kita punya jarak dengan dia. Bersamanya, kita mungkin terkejut akan kenyataan yang sesungguhnya. Demikianlah pula kita yang jika di dalam menjalani hidup ini memperjuangkan kebenaran kita di luar sang waktu, kelak mungkin akan terkejut mendapati kebenaran sesungguhnya. Kenyataan yang bisa sangat berbeda dengan apa yang akan kita hadapi. Percayalah. Dan sadarlah. Memang demikianlah adanya.
Senin, 27 Januari 2014
PENJUAL KORAN
Waktu berlalu, hari demi hari. Dan sepanjang usia, kita tinggalkan jejak yang takkan balik kembali. Kita melintas hanya sejenak dalam perjalanan sang kala yang seakan tak berujung. Hanya, betapa seringnya, kita, yang ada dan hidup sekarang, saat ini, merasa betapa waktu seakan beku. Hanya, seakan-akan begini-begini saja. Kita mandek, terhenti dan tak mampu kemana-mana. Kita hanya berdiam diri, terpaku di sudut kesendirian kita, merasa sepi dan terkucil. Sedemikian tak berdaya dan hampa. Sia-sia dan tak berguna. Hidup kadang kala menjadi sesuatu yang mesti ditangisi. Bukan untuk dinikmati. Apalagi disyukuri.
Waktu berlalu dan kita pun berlalu bersamanya. Sesungguhnya hidup ini berjalan sederhana saja. Sesederhana tugas yang dijalani oleh lelaki penjual koran. Sebab dalam tugasnya yang mungkin terasa membosankan itu, dia melaksanakannya bagaikan dalam tarian hidup yang demikian indah. Sambil menyiulkan satu irama asing, dia memberikan berkat bagi dirinya, sekaligus berkat bagi dunia. Pagi tiba. Dan rasakanlah, betapa hangatnya pancaran sang surya yang perlahan membelai wajah kita di tengah kebersihan lingkungan yang telah dikerjakan oleh mereka-mereka yang sama sekali tak kita kenal. Mereka yang sering tak kita hargai. Dan bahkan kita lupakan sama sekali. Bukankah merekalah sesungguhnya sang pemilik kehidupan ini?
Langit mulai terang. Ku berdiri di depan Hotel menunggu seorang temen yang sedang mandi ketika ku datang di depan hotel sambil menikmati kesegaran udara pagi. Jalan masih lengang dan tak nampak sebuah pun kendaraan yang melintas, hanya beberapa orang yang melewati jalan. Di depanku, seorang lelaki setengah baya sedang sibuk menawarkan daganganya "koran-koran mas, kompas, KR,....bagus lho gaji PNS naik tapi nunggu korupsi hahahhaaa..." begitu kata seorang lelaki setegah baya penjual koran yang menawarkan koran sambil tersenyum riang dan wajahnya pun nampak ceria sambil menyiulkan sebuah lagu yang terasa asing bagiku. Suara siulannya terdengar jernih di udara yang sejuk pagi. Sementara pada kedua tangannya, tergenggam koran, sejenak kami ngobrol dan bersendau gurau, setelah ku beli korannya pak setengah baya itu pamit mau melanjutkan berjualan koran, tiba-tiba gerakan ketika berjalan meninggalkanku nampak bagaikan menari. Menarikan sebuah tarian pagi yang indah, bersama iringan siulannya yang merdu. Menakjubkan. Dan matahari mulai menghamburkan sinar kuning keemasan, sinarnya pun perlahan-lahan menerobos di semua penjuru jagat raya.
Ah, mendadak ku teringat pada mereka yang merasa terpaksa harus bangun dini karena diwajibkan. Mereka yang merasa seakan dunia telah runtuh karena harus mengingkari kenikmatan tidurnya yang lelap. Mereka yang hidup namun tak menyadari kehidupannya. Mereka yang hadir seakan hanya untuk diri sendiri. Dan tak pernah menyadari keindahan dunia sekelilingnya. Menjelang pagi ini, saat sang surya mulai menampakkan dirinya, ku merenungkan, betapa seringnya kita terpaku hanya pada apa yang kita rasakan tetapi gagal untuk menyadari keindahan lingkungan hidup kita yang terbentang luas di depan kita. Di depan kita semua....
Dengan tangan kanan yang menggengama koran, lelaki tua itu menlangkah pergi, sambil tak henti menyiulkan lagu yang terasa asing bagiku. Namun indah. Sungguh indah. Riang sangat. Adakah rasa sesal terhadap dirinya saat itu? Adakah rasa putus asa karena harus hidup setiap hari dalam rutinitas yang sama? Bangun saat dini, saat orang masih sibuk menikmati mimpi mereka, dan memulai tugasnya tanpa seorang yang menyaksikan dan menghargai apa yang dikerjakannya? Untuk menjual daganganya. Suatu tugas yang mulia. Tetapi berapakah yang diterimanya sebagai imbal jasa untuk semua karyanya itu? Cukupkah bagi kehidupannya sekeluarga? Adakah anak-anaknya mendapatkan penghidupan yang baik? Pendidikan yang layak? Ah, lelaki tua itu bergerak seakan menari dalam tugasnya, diiringi suara siulannya yang indah. Wajahnya nampak ceria. Betapa kuatnya dia. Begitu riangnya dia dan ramah membagikan senyuman...
Sambil menunggu temen ku menikmati hidupku. Apa yang ku miliki, apa yang ku nikmati, pahit atau manis, duka atau suka, tak pantaslah kukeluhkan jika ku bisa terinpirasi pada lelaki tsetengah baya penjual koran itu. Udara yang bersih, langit yang biru, pohonan yang rindang, alam yang mempesona. Siapakah kita sehingga harus mengeluh dan terus merajuk hanya karena sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita terjadi? Siapakah kita sehingga ingin dengan buas melahap apa saja hanya demi keinginan diri sendiri? Bukankah kita hanya berasal dari debu yang kelak akan kembali menjadi debu? Pantaskah kita keluhkan kesenangan yang gagal kita raih? Pantaskah?
Waktu berlalu dan kita pun berlalu bersamanya. Sesungguhnya hidup ini berjalan sederhana saja. Sesederhana tugas yang dijalani oleh lelaki penjual koran. Sebab dalam tugasnya yang mungkin terasa membosankan itu, dia melaksanakannya bagaikan dalam tarian hidup yang demikian indah. Sambil menyiulkan satu irama asing, dia memberikan berkat bagi dirinya, sekaligus berkat bagi dunia. Pagi tiba. Dan rasakanlah, betapa hangatnya pancaran sang surya yang perlahan membelai wajah kita di tengah kebersihan lingkungan yang telah dikerjakan oleh mereka-mereka yang sama sekali tak kita kenal. Mereka yang sering tak kita hargai. Dan bahkan kita lupakan sama sekali. Bukankah merekalah sesungguhnya sang pemilik kehidupan ini?
Yusinus Setyanta
Jogja
Sabtu, 25 Januari 2014
Langganan:
Postingan (Atom)





