Jumat, 05 Januari 2018

NYETIR DI GENANGAN AIR atau LOKASI BANJIR





Bagi anda yang terpaksa melalui lokasi banjir dan menerjang genangan air, ada beberapa tips untuk anda.


1. Nyetir di tempat banjir ga perlu ngebut. Kenapa? Utk menghindarin cipratan berlebih diruangan mesin yg berpotensi bikin mogok.

2. Nerjang banjir paling aman pakai gigi 1 (mobil matic pindah ke L atau 1). Karena beban mobil lebih berat wkt nerjang banjir

3. Gak perlu resah urusan knalpot kemasukkan air. Knapa? Karena knalpot gak akan bisa kemasukkan air selama mesin tetap nyala.

4. Ketimbang knalpot, yg harus diperhatikan justru filter udara (intake udara) di ruang mesin. Bagian ini lebih rentan bikin mogok di banjir

5. Karena filter udara yg kemasukkan air (cipratan dari menerjang banjir) bs bikin mogok dan mesin jebol (water hammer). Maka dari itu atur dan pertahankan kecepatan kendaraan perlahan saat melintas.




6. Jika memungkinkan, hindari berhenti ditengah banjir. Karena saat mobil berhenti, permukaan air akan naik di ruang mesin.

7. Pada dasarnya, mobil bermesin diesel lebih aman nerjang banjir dibanding mesin bensin. Diesel lebih bersifat 'Waterproof'.

8. Kenapa ga bole terlalu di gas wkt lewat banjir? Karena filter udara semakin kuat nyedot udara. Makin berpotensi ngisep air.

9. Selalu siaga dan cermat. Tanpa disadari, yg bikin mobil kita mogok justru terjangan ombak air berlebih dari mobil sebelah.

10. Setelah melewati genangan, jgn langsung mengebut. Cukup berbahaya karena kondisi rem kita masih sangat licin.



11. Cara mengeringkan rem setelah melewati genangan? Cukup lakukan rem kecil berulang hingga terasa menggigit kembali.

12. Untuk mobil manual, usahakan menghindari menginjak kopling saat berada di genangan banjir. Mengapa? Karena menginjak kopling di genangan banjir membuat air masuk ke transmisi. Berpotensi merusak transmisi karena oli bercampur air.

13. Jika belum familiar dgn jalan yg dilewati. Usahakan jgn melintas pinggir jalan. Mgkn saja ada selokan








(Yustinus Setyanta)

(BER) PELUK (AN)

Dua dalam satu berpelukan

Kehangatan dalam kedamaian 

Gairah kita hingga mendesis 

Serasa mengecup yang manis















Mendaratlah kasih dalam rupa kecupan 

Debar sebagai jelmaan diri yang tertera 

Entah berapa lama tersimpan wanginya 

Sebelum berada dalam pelukan

















(Yustinus Setyanta)

Selasa, 02 Januari 2018

GREEN LIVING

"Menghijaukan" Rumah dengan Langkah sederhana. 


Menciptakan hunian yang hijau atau green living lebih dari sekadar menanam tumbuhan hijau di sekitar area rumah. Hal inilah yang kerap dikesampingkan. Padahal, untuk menciptakan hunian hijau, ada banyak cara mudah yang bisa dilakukan. Berikut ini sejumlah cara untuk mengusung gaya hidup hijau ke dalam rumah. 








Perkecil Ukuran. 

Memperkecil ukuran rumah adalah cara yang terbilang cukup ekstrem dalam menerapkbn gaya hidup hijau. Namun, coba perhitungkan. Bila rumah semakin kecil, jumlah energi yang diperlukan akan berkurang. Energi ini terkait dengan listrik, misalnya pemakaian lampu yang semakin sedikit. Pun tidak perlu banyak air untuk membersihkan bagian-bagian rumah jika ukuran rumah kecil. 

Meskipun demikian, memperkecil ukuran rumah bukanlah solusi terbaik jika ukuran rumah memang tidak seberapa luas. Hal yang bisa dilakukan adalah menyingkirkan barang-barang yang tidak diperlukan. Barang-barang semakin sedikit, tenaga untuk merawatnya pun semakin minim. 



Tingkatkan Nilai. 

Mendaur ulang diartikan sebagai mengolah barang bekas atau barang yang sudah tidak terpakai menjadi barang baru yang lebih baik dan bermanfaat. Namun, tanpa memerlukan perubahan ekstrem, maka bisa mengubah bah barang lawas agar tampil baru. 

Contoh sederhananya, mengganti kain pelapis sofa lawas dengan kain yang baru. Jika mempunyai kemampuan melukis cobalah membuat motif sendiri di atas tirai lama. Tirai lama pun akan tampil beda. Tidak perlu mengeluarkan uang dan tenaga lebih untuk membeli tirai baru, dan tidak menciptakan sampah dengan membuang tirai lama. 




Berkebun. 

Istilah berkebun di sini tidak hanya berarti menanam tanaman hias di halaman depan rumah. Bisa menanam sayuran dan buah-buahan di pekarangan belakang atau area samping rumah. Jika lahan terbatas, buatlah taman vertikal. 

Menanam sayuran tidak hanya membuat tidak perlu terlalu sering berbelanja untuk konsumsi sehari-hari, tetapi juga menciptakan suasana hijau pada hunian, sekaligus menciptakan bahan makanan yang masih sehat segar. Contoh jenis sayuran antara lain, tomat, cabai, terong, kemangi, seledri dan yang memungkinkan lahan di sekeliling rumah. 

Dekorasi Alami. 

Menempatkan vas dengan bunga segar tidaklah kuno. Ini adalah cara paling mudah menciptakan suasana asri dan apik dalam rumah. Pemakaian bunga plastik, meski awet, justru dapat membuat sampah an-organik jika dibuang ketika sudah usang. 

Bunga segar pun bisa awet. Namun, perlu rajin mengganti air dalam vas setiap hari. Jangan lupa memotong bagian batang paling bawah. Hilangkan dedaunan dan bagian tangkai bunga yang membusuk. Jika telaten merawat, bunga segar bisa bertahan hingga seminggu dalam vas. 




Ramah Lingkungan. 

Peralatan yang terbuat dari bahan ramah lingkungan pun mulai banyak. Bisa menggunakan peralatan makan dari olahan bambu atau kayu-kayuan lain. Peralatan makan ini bisa ditemukan di sejumlah pusat perbelanjaan atau secara daring (online). 

Jika mengecat dinding, pilih cat yang tidak mengandung bahan berbahaya. Alih-alih menggunakan kantung plastik untuk berbelanja, gunakan tas kain atau tas tentang lain yang terbuat dari bahan ramah lingkungan. Tas model ini bisa didapatkan di sejumlah pusat perbelanjaan. [*/YS)







(Yustinus Setyanta)

TITIK : AKAR DAYA dan GUNA KATA.

Sebagaimana air punya alirnya sendiri. Hidup pun punya alurnya sendiri. Alir air punya asal, alur hidup punya muasal. Sejajar dengan penalaran ini, tradisi memahami kata-kata pun punya akarnya. Apakah akar kata-kata? "Cecek" tutur tradisi varian sebutannya adalah gecek. Artinya sama : Titik. 

Titik itu point. Point itu substansi. Substansi itu sari-pati. Sari-pati itu inti. Inti itu hakikat. Hakikat itu kedalaman terdalam. Kedalaman terdalam itu Hidup yang menghidupkan dan menghidupi kehidupan dengan penghidupan. Hidup yang menghidupkan dan menghidupi kehidupan dengan penghidupan itu dinamakan dengan banyak nama. "Air Hidup itu satu diantara sebutannya. 

Titik itu awal dan juga akhir setiap aksara yang disuratkan. Setiap aksara manakala disuratkan dimulai dengan titik dan diakhiri dengan titik. Titik itu awal, sekaligus akhir. Titik bisa berwujud noktah kecil hingga tak kelihatan, tapi titik juga dapat berwujud besar tak terhingga. Titik bisa mewujud lubang kecil, lubang sedang, hingga lubang hitam besar tak terhingga. Titik bisa berupa bola pingpong, bisa bola tenis. 

Titik juga bisa berupa bola sepak yang dikejar-kejar dengan sepenuh daya, kecerdasan dan kecekatan oleh pemain sepak bola. Bukan untuk dikuasai, tidak buat dimiliki melainkan untuk ditendang kembali hingga bisa pas tepat masuk ke ruang kosong gawang. Titik itu daya energi hidup yang menjadikan kata-kata mengalir dari pikiran ke ujung lidah menjadi frase, kalimat, paragraf, wacana, hingga menjadi buku bahkan kitab. Daya Energi Hidup ini menjadi kata-kata mengandung substansi makna kebenaran yang berguna memuliakan kehidupan bersama manakala dilahirkan dari kecerahan kesadaran dan kebijaksanaan budi. Kata-kata kehilangan makna dan gunanya bagi kehidupan manakala dilahirkan dari kegelapan ego, yang mau menang dan benar sendiri. Cerdas dan bijaklah dengan kata-kata yang terucap maupun tersurat.




(Yustinus Setyanta)

DEMI MASA


Akan datang pada masanya pulang
Masih saja'kah belum berbenah
Disetiap kali waktu kita singgah
Pada waktu yang sudah terarah

Jalan sudah jelas
Dari keyakinan yang tegas
Agar masa jangan sampai tertebas
Sebab detik hanya sekilas

Akan terlindas
Selesaikan tugas-tugas
Cepatlah bergegas
Benahi waktu jangan malas















(Yustinus Setyanta)

SERBA INTERTEKS

"Teks adalah sebuah jaringan kutipan-kutipan yang diambil dari pusat-pusat kebudayaan yang tak terhingga banyaknya.............sebuah ruang multidimensi yang terdapat beraneka ragam tulisan........." (Roland Barthes, 1990)


Jika ada adagium yang menyebut "Tak ada yang baru dibawah matahari", maka istilah "Intertekstualitas" segera dapat disandingkan frasa "yang baru" di situ, tentu merujuk soal orisinalitas. Orisinalitas, dizaman (yang orang sebut) sebagai post-modern ini, justru menjadi problmatis. Justru dibongkar, dan di tempatkan dalam ruang paradoks alias kontradiksi -- sebagaimana juga diskursus postmodernisme itu sendiri (yang selalu kontradiktif dan difinisinya). 
Andai kita bersepakat dengan para pemikir postmodern, semacam Roland Barthes, Franscois lytard, Kristeva dan beberapa yang lain, maka dalam konteks proses produksi teks, mau tak mau, kita pun harus sepakat bahwa tak ada sebuah seni tertulis yang orisinal - terutama jika kata "orisinal" dimaknai sebagai sesuatu yang otonom, steril dari berbagai pengaruh dari luar dirinya. 

Maka, kita bisa meletakan pemahaman bahwa soal "orisinalitas" adalah soal "kreativitas". Dengan menempatkan orisinalitas berbanding lurus dengan kreativitas, maka sesungguhnya, sedang memberi ruang "pengayaan" atau "perluasan" pada proses produksi teks (oleh si pengarang) artinya pengelanaan seorang pengarang ketika melakukan ekplorasi (panggilan) teks, dalam proses menulis, menuangkan gagasan-gagasan, adalah pengelanaan seorang pengembara yang telah dibekali oleh gagasan-gagasan yang terdapat di dalam "tek-tek lain".




Inilah yang oleh Julia Kristeva - pemikir perancis yang mengenalkan istilah "kesaling tergantungan satu teks dengan teks-teks sebelumnya" urusan teks, tidak semata urusan internal dengan yang eksternal. Artinya, menjadi penting peran sebuah teks "lama" untuk kelahiran sebuah teks "baru". Hal semacam ini tidak semata hanya dapat dilihat dari dan dikhususkan untuk proses penciptaan karya sastra saja, tetapi juga dalam konteks dinamika sosial yang lebih luas. Karena, bukankah kini memang sedang berada di dalam dunia/zaman yang serba interteks? Semua yang kita pakai, kita gunakan, kita makam, kita lihat, kita rasakan adalah serba interteks. Serba tak dapat kita raba "Asal muasalnya". Identitas-identitasnya menawarkan keserba-adaan, sekaligus keserba-tak-adaan.

Dunia serba interteks inilah yang memberi pengaruh pada pengarang -- sebagai salah satu bagian dari pengerak dinamika kehidupan sosial - - yang kemudian tentu memberi pula pengaruh dalam proses penciptaan teks. Maka interteks adalah niscaya. Tak dapat dinafikan. Interteks, dengan begitu adalah relasi-relasi yang selalu ada. Selalu dapat ditemukan dalam teks-teks ilmiah, sastra dan sebagainya, selama proses penciptaan teks dilakukan dalam sebuah "ruang dan waktu yang kongkrit". Dan dengan demikian, tentu selama dunia ini masih ada, kan?

Maka apakah tidak lebih afdol jika menerus memaknai orisinalitas dalam pergulatan dinamika yang semacam itu? Memaknai terus menerus relasi-relasi makna dalam pergulatan relasi-relasi teks yang tak pernah usai. Bisa selesai, ketika diantara relasi-relasi itu -- yang boleh jadi akan bersilang-sengkarut dapat ditemukan satu "simpul benang" yang "kongkrit" juga sebuah simpul "makna" yang dapat diberi identitas sebagai sebuah seni tertulis. * (-_-)






(Yustinus Setyanta)