Rabu, 04 Februari 2015

DIRI SENDIRI

Ini sangat sulit untuk menjawab pertanyaan itu:
Apa itu diri sendiri? Apa diri sejatiku?
Sungguh tidak dapat dijelaskan. Tetapi kenyataannya sungguh sangat penting untuk kita pahami artinya karena untuk alasan inilah bahwa kita melakukan semua usaha untuk meninggalkan diri palsu kita.
Ini tak bisa dijelaskan, tetapi saya menemukan sebuah ungkapan yang sangat indah dari seorang filsuf India abad ketujuh. Dia mengatakan: "Diri sendiri adalah cahaya batin. Menampakkan dirinya dan tidak menjadi obyek persepsi. " .”











{Yustinus Setyanta}

::.MENJELANG SAPU.::













Menjelang sapu, menjelang lidi...
Bersama pelepah bersama angin...
Bergoyang mengikuti iriama puji Tuhan...
Ada pula yang megucapkan salam damai...

Menjelang sapu
lidi-lidi mepersiapkan tali

Pengabungan-persatuan
Penyatuan-kekuatan...
Daun-daun lemah dilepasi...
Ujung-ujung lemas dipunggali...

Menjelang sapu
adakah dalam doamu
lantai tanpa sapu?
Lalu

bersih telah


{by:Yustinus Setyanta}

Senin, 02 Februari 2015

CAMAR MELAYANG DI ANGKASA

     Sekumpulan camar melayang di angkasa. Sekumpulan camar melayang di bawah langit yang mendung kelabu. Sekumpulan camar dengan formasi segitiga, mengepak-ngepakkan sayapnya sambil lalu lalang, naik turun kesana kemari. Membentuk seperti wajah sosok mahkluk, terdiri dari kedua mata dan mulut. Mendung kelabu yang menutupi cahaya pagi hari seakan menjadi tempat berteduh bagi mereka yang hidup. Hujan tidak turun. Angin bertiup semilir membawa hawa dingin. Ku berdiri memandangi sekumpulan camar, mendengarkan deru suara dahan dan ranting pepohonan tertiup angin yang bergelora sambil menikmati kesegaran udara pagi. Beberapa sosok tubuh nampak berlari menyisiri jalan. Beberapa sosok tubuh, dengan nafas terengah-engah sedang melaksanakan jogging untuk kesehatan tubuh. Diriku. Camar. Para pelari pagi. Dan alam. Suatu tali yang lembut dari nafas hidup sedang menghubungkan kami semua.

    
     Seberkas cahaya nampak muncul dari kumpulan mendung. Seberkas cahaya muncul dari himpunan mendung yang menutup langit. Camar. Para pelari pagi. Diriku. Dan alam. Semuanya nampak ceria menyambut terang yang perlahan menghangatkan tubuh ini. Uhh.......harapan memang tidak pernah mati jika kita bersandar pada semangat-Nya. Harapan tidak pernah sirna jika sanggup melepaskan diri dari segala impian pada batu-batu yang diharapkan menjadi roti. Sebab kita dapat menuruti teladan-Nya. Manusia hidup bukan hanya dari roti saja. Bukan. Tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Itulah kata Gusti Yesus kepada iblis yang sedang mencobaiNya.

     Ya, diriku bersyukur karena hidup tidak hanya terdiri dari materi saja. Gusti Yesus yang selalu menyadarkanku walau kadang kesadaranku kutinggalkan karena tak ingat. Namun sadar akan makna keberadaanku di dunia yang fana ini. Agar semuanya tidak menjadi hampa. Agar hidup tidak sia-sia. Maka dipagi yang mendung ini. Diriku menggapai damaiku pada segala yang nampak hidup. Para pelari pagi itu pun tak terganggu oleh suasana langit yang muram karena mendung. Camar-camar tetap melayang kesana kemari.

*****************************
Puisi: Burung Camar 1

O laut biru
aku pelaut dalam alunan gelombangmu

petualang tak kenal lelah dalam udara bebasmu
bertemankan bintang sebagai penunjuk arah jalanku

O laut biru
tak henti kutelusuri setiap lekuk tubuhmu
hingga merapat ke suatu dermaga kapalku
singgah sejenak sebelum akhirnya melaju

O laut biru
akulah camar yang terbang memintasi ombakmu
terbang jiwaku memendam rindu dalam kobaran birumu
lalu terbang menukik ke dalam gelora tubuhmu

O laut biru
engkaulah samudera biru samudera hatiku
bergelora membara ombak di dalam dadaku
tak dapat kutemukan dimana batas-batasmu! 

************************************
Puisi: Burung Camar 2

Burung camar terbang di senja yang senyap
Berayun halus mengepakkan sayap
Terbang merendah jauh menghinggap
Dengan tenangnya ia berharap

Berdentinglah tetes air di telaga
Imaji yang tinggi tak terhingga
Mengetuk ruas jendela
Ia berdiri tiada lekas bangga

Syair tersampaikan dalam bait
Tertulis dalam catatannya
Huruf-hurufnya kalimat nyata
Kata-kata tersusun dalam kalimat

{By:Yustinus Setyanta}

RANGKAIN KATA DARI IKLAN KARTU TELKOMUNIKASI

Aku
merasa
SIMPATI
padamu,
karena kamu
ibarat MENTARI
yang sinarnya membuat hatiku sebening XL,
dan aku bisa BEBAS mencintaimu,
sepu-AS hatiku, dan kamu pantas di acungi JEMPOL,
karena dari segi fisik kamu adalah cewek yang sangat FLEXI-bel.
Oleh sebab itu kamu menjadi FRENS-ku sampai saat ini,
sayang!!





{Yustinus Setyanta} 


JARING MANUSIA

     Ikan-ikan sekarang lebih sulit untuk dijala, sebab mereka dengan mudah bisa bersembunyi di balik plastik atau sampah yang dibuang sembarangan di sungai, bahkan menumpuknya sampah di sungai menyebabkan aliran sungai jadi tersendat dan mengakibatkan banjir.

     Yang lebih mudah dijala saat ini adalah manusia. Kenapa? Karena hanya dengan beriklan di televisi, jutaan manusia bisa dijaring dengan mudah baik melalui layanan ketik REG maupun dukungan bagi di idola mereka. Yang juah lebih mudah pula jika dijaring melalui facebook, twitter atau jejaring sosial lainnya. Apa yang kemudian terjadi melalui semua itu? Entahlah.....



 {Yustinus Setyanta}

SANG TIMUR

     Timur dalam bahasa jawa berarti muda atau kanak-kanak, maka Sang Timur menunjuk pada kanak-kanak Yesus atau bayi Yesus. Jika Timur diartikan sebagai arah mata angin, maka akan aneh bagi orang Jawa menyebut Yesus Sang Timur karema Jawa teletak jauh lebih timur daripada Yerusalem.

     Masa ke-timur-an Yesus bagi kita sekarang sangat singkat. Karena baru di bulan Desember kita memperingati kelahiran-Nya lalu 3-4 bulan kemudian kita memperingati wafat-Nya di kayu salib. Dari masa yang teramat singkat itu, perlu bertahun-tahun bagi kita untuk bisa menghayati kehidupan Yesus. Oleh karena itulah kesetiaan kita benar-benar diuji, sebab tidaklah mudah menghayatai kehidupan Yesus. Oleh karena itu pula, kita sangat bergantung pada Roh Kudus untuk bisa memahami dan menghayati kehidupan-Nya.



 {Yustinus Setyanta}